PayDay loans car insurance
  • Kalender

    May 2012
    M T W T F S S
    « Jan    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Archives

  • Categories

  • WebQuest: Membuat Materi Pelajaran Eye Catching

    Posted January 26th, 2012 by
    Categories: ICT in Education, Information & Communication Technology (ICT), Management Information Systems, UIN, e-Education

    By Susanah Sutardjo*

    Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, motivasi belajar, dan pada akhirnya prestasi akademik siswa. WebQuest adalah salah satu produk dari TIK yang bisa diperoleh dengan mengakses internet.

    WebQuest adalah format pelajaran yang berorientasi pada metode inkuiri yang di dalamnya memuat banyak informasi tentang materi pelajaran dan penugasan berasal dari web yang me-link ke WebQuest.

    WebQuest dikembangkan oleh Bernie Dodge di Universitas Negeri San Diego pada Februari 1995 dengan input awal dari SDSU/Pacific Bell Fellow Tom March, staf di Teknologi Pendidikan di San Diego Unified School District dengan partisipan peserta Teach the Teachers Consortium.

    Sejak itu puluhan hingga ribuan guru menggunakan WebQuest sebagai salah satu jalan menarik siswa dalam proses belajar di abad 21.  Model ini kemudian menyebar di seluruh dunia. Bahkan beberapa negara dengan antusias menggunakan WebQuest seperti Brazil, Spanyol, Cina, Australia, dan Belanda.

    Membuat WebQuest

                Secara teknologi membuat WebQuest sangat mudah. Sepanjang kita dapat membuat dokumen dengan hyperlinks, maka kita dapat membuat WebQuest. Ini artinya bahwa WebQuest dapat dibuat dengan menggunakan Word, Powerpoint, bahkan Excel.

    Sebuah WebQuest adalah:

    ·         Meliputi tugas yang dapat dilakukan siswa dengan tampilan menarik

    ·         Memerlukan proses berpikir lebih dalam, bukan hanya sekedar merangkum materi pelajaran. Termasuk di dalamnya adalah kegiatan menggabungkan, menganalisa, memecahkan masalah, menciptakan kreativitas, penilaian, dan evaluasi.

    ·         Menggunakan sumber informasi dari web dan referensi buku lain untuk memperkaya materi pelajaran. Jika materi di WebQuest hanya berasal dari buku pelajaran tanpa diintegrasikan dengan informasi yang ada di situs yang memiliki keterkaitan dengan mata pelajaran, maka WebQuest tak ubahnya seperti pelajaran konvensional.

    ·         Membuat WebQuest bukan berarti membuat laporan penelitian atau membuat langkah demi langkah seperti prosedur matematika. Sehingga, WebQuest tidak berhenti sampai pada tahap siswa mampu membuat contoh WebQuest diikuti dengan presentasi. Tetapi siswa mampu memberikan contoh-contoh dari tema pelajaran yang disajikan dalam WebQuest sekaligus menjelaskan maksud tulisan yang ada dalam WebQuest.

    Situs Penyedia WebQuest

    ·         QuestGarden

    QuestGarden diciptakan oleh Bernie Dodge. Membuat WebQuest dengan menggunakan Quest Garden lumayan mudah. QuestGarden menyediakan step by step cara membuat WebQuest dan contohnya dengan disupport dokumen dalam bentuk Word, PowerPoint, dll.

    ·         Zunal.com

    Situs Zunal.com juga menyediakan WebQuest secara gratis. Caranya, buka situs http://zunal.com. Setelah membuka halaman zunal.com, kemudian melakukan registrasi di kolom Register Free. Urusan registrasi beres, klik login dengan memasukkan e-mail dengan password. Langkah selanjutnya membuat WebQuest dengan mengikuti langkah-langkah demi langkah yang ada di zunal.com.

     

    ·         Teacherweb.com/tweb/TWQuest.aspx

    Website teacherweb.com menyediakan WebQuest bagi siapa saja yang telah mendaftar. Menariknya, selain WebQuest, situs teacherweb juga menyediakan space untuk membuat situs milik para pengajar.

    Untuk membuat WebQuest, langkah pertama adalah klik https://www.teacherweb.com/tweb/twquest.aspx. Kemudian klik sign up and get started. Langkah selanjutnya klik Create WebQuest yang ada di home yang akan diikuti dengan tampilan di bawah ini.

     

    Create Your TeacherWebQuest:

    Grade Level: Elementary SchoolMiddle SchoolHigh School

    Subject Area: ArtAstronomyBiologyCareersCharacterChemistryComputersCurrentCurrent EventsDrama/TheaterEconomicsEducation TechnologyEnglishFrenchGeographyGermanHealthHistoryLanguageLanguage ArtsLawLiteratureMathMedicineMusicPhysicsPoliticsPsychologyReligionSafetyScienceSocialSocial StudiesSpanishSportsStudy SkillsWeatherZoology

    Topic of the WebQuest: (e.g. “Olympics”, “Biomes”, “CivilWar”)

    Title of the WebQuest: (e.g. “Civil War WebQuest”)

     I have an Account Code

     I have the email address and password of my paid TeacherWeb account

     

     

    Account Code:

     

    I agree to the Terms and Conditions of a WebQuest on TeacherWeb®

     

    I acknowledge that TeacherWeb® may remove my WebQuest at any time,
    with or without cause, in its sole and absolute discretion.

     

    Isi kolom yang tersedia. Semua harus diisi. Setelah semua diisi, klik Next. Langkah selanjutnya adalah membuat WebQuest sesuai instruksi di web.

     

    Template WebQuest

    Agar tampilan WebQuest menarik, pilihlah template yang kira-kira sesuai dengan umur siswa. Di bawah ini contoh template di Quest Garden.

     

     

     

     

     

     

    Secara umum langkah pembuatan WebQuest seperti di bawah ini:

     

     

    Pilih Topik  Mata Pelajaran yang sesuai dengan model Inkuiri

     

     

     

     

                                             

     

    Membuat Design

     

     

     

     

     

     

    Jelaskan Bagaimana Siswa akan Dievaluasi

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Proses Desain

     

     

     

     

     

    Mempercantik Tampilan WebQuest

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Ternyata membuat WebQuest mudah. Selamat mencoba ya. Semoga berhasil.

    *Penulis adalah Mahasiswa Program Pasca Sarjana Magister Psikologi Sains UIN Syarif Hidayatullah

     

     

    Teknologi Informasi dan Komunikasi Bidang Pendidikan (E-Learning)

    Posted December 5th, 2011 by
    Categories: Management Information Systems

    <!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

    Ziska Herman Tobing

    Npm: 11 811 2426

    Angkatan 43G

    I. PENDAHULUAN

    Pada masa kini, sebagian besar masyarakat semakin merasakan informasi sebagai salah satu kebutuhan pokok disamping kebutuhan akan sandang, pangan dan papan. Seiring dengan hal itu, informasi telah berubah bentuk menjadi suatu komoditi yang dapat diperdagangkan. Keadaan ini terbukti dengan semakin berkembangnya bisnis pelayanan informasi, seperti stasiun televisi, surat kabar, radio dan internet yang telah memasuki sendi-sendi kehidupan manusia.

    Perubahan lingkungan yang pesat, dinamis dan luas tersebut didukung oleh kemajuan teknologi informasi disegala bidang. Hal ini telah mendorong transformasi masyarakat tradisional menjadi masyarakat informasi.

    Perkembangan teknologi informasi telah membawa dampak dalam kehidupan masyarakat. Sejak diketemukannya Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan teknologi secara umum adalah semua teknologi yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpulan, pengolahan, penyimpanan komputer pada tahun 1955, peradaban dunia telah memasuki era informasi. Teknologi informasi dan komunikasi yang terus berkembang cendrung akan mempengaruhi bidang kehidupan seperti bidang keuangan perbankan, pemerintahan (e-goverment), Sain, teknik rekayasa, kedokteran, administasi, industri tansportasi, dan pendidikan (e-education).

    Pada saat ini hampir disetiap sekolah menengah atas telah menggunakan komputer sebagai media pembelajaran, hal itu terjadi baik di desa maupun dikota karena sejak tahun 2009 pada setiap sekolah menengah atas terdapat mata pelajaran baru yaitu Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan teknologi secara umum adalah semua teknologi yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi. (Kementerian Negara Riset dan Teknologi, 2006: 6). TIK tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Mulai dari anak kecil hinga orang tua, pedagang kecil hingga pengusaha besar, baik disadari maupun tidak sudah begitu tergantung pada TIK (Iradewa,2011)

    Dampak dari aplikasi teknologi komunikasi dan informasi pada dunia pendidikan dapat membuat suatu perubahan pada lingkungan belajar. Kemungkinan lingkungan belajar yang akan terbentuk suatu lingkungan yang berhubungan dengan jaringan yang menempatkan siswa berada ditengah-tengahproses pembelajaran yang dikelilingi oleh sumberbelajar dan layan belajar elektronik.

    II. ISI

    A. Perkembangan Teknologi Informasi

    Dilihat dari sejarannya, TIK sesungguhnya sudah mulai dikenal manusia sejak beratus-ratus berabad-abad lalu. Sejak manusia diciptakan di muka bumi ini, manusia sudah mulai mencoba berkomunikasi dengan symbol-simbol dan isyarat. Hal ini merupakan titik awal perkembangan TIK. Manusia yang lebih maju dan modern mampu berkomunikasi secara lisan dan mulai mampu mendokumentasikan informasi dalam bentuk tulisan dan ukiran baik dalam bentuk simbol maupun gambar.

    Pada zaman dahulu, teknik pendokumentasian informasipun masih sangat sederhana, tetapi akhirnya terus berkembang dengan pesatnya sampai saat ini. Beberapa alat yang digunakan pada zaman dahulu antara lain, tulang, batu, kulit kayu, tanah liat, dan kulit binatang. Adapun karakteristik dari cara penyampaian informasi pada zaman dahulu adalah informasi menyebar dengan lambat dan kuran efektif.

    Setelah masa revolusi industri, alat-alat mekanik bahkan elektronik mulai ditemukan, termasuk didalamnya alat-alat yang mampu membuat penyebaran informasi menjadi lebih mudah dan efektip. Jika pada awalnya orang yang berjarak jauh hanya mampu berkomunikasi lewat surat atau melalui kurir, maka pada abad pertengahan ini sudah mulai digunakan telegraf. Beberapa tahun kemudian, Alexander Graham Bel menemukan telepon yang mampu dipakai untuk berkomunikasi oleh orang walaupun berjarak jauh.

    TIK berkembang dengan sangat pesat hingga saat ini. Saat ini, jarak dan waktu seakan tidak lagi menjadi halangan dalam berkomunikasi. Orang yang berada di pulau yang berbeda bahkan negara yang berbeda kini sudah mampu melakukkan komunikasi bahkan mampu ditampilkan secara visual. Salah satu hal yang sedang menjadi trend sat ini adalah kegiatan yang berbasis internet dan elektronik. Beberapa contoh diantaranya adalah e-learnig, e-banking, e-library, e-labolatory, e-mail dan sebagainya. Aktivitas-aktivitas berbasis elektronik ini sudah pasti sangat membantu kegiatan manusia. Dengan hal tersebut di atas, dimensi ruang dan waktu tidak lai menjadi hambatan.

    Selain itu, proses pengolahan data pun semakin cepat dan efisien. Berbagai barang elektonik mulai dari televisi, handphone, pager, PDA, laptop hingga palmtop sudah menjadi barang-barang yang tidak asing lagi bagi masyarakat. Perkembangan TIK pun semakin pesat seiring dengan ditemukannya alat-alat yang lebih canggih.

    Melihat apa yang terjadi saat ini, dapat dibayangkan apa yang mungkin dapat terjadi di masa nanti. Jauhnya jarak tidak lagi akan terasa. Kelak komunikasi jarak jauh akan dilakukan dengan hologram tiga dimensi yang begitu nyata. Pekerjaan-pekerjaan manusia akan mulai dikerjakan oleh robot yang bekerja secara otomatis dan mampu belajar dari pengalamannya sehingga mampu mengkoreksi kesalahan yang ia lakukan dengan sendirinya.

    Teknologi komputerpun akan berkembang dengan pesat. Komputer masa depan akan mampu merespon tindakan-tindakan manusia dan memahami bahasa manusia. Lebih canggihnya lagi, komputer generasi yang akan datang diramalkan, akan memiliki perasaan layaknya manusia.

    B. Perkembangan Teknologi dan Informasi di Bidang Pendidikan

    Perkembangan teknologi informasi di Indonesia semakin berkembang. Dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi dapat memudahkan kita untuk belajar dan mendapatkan informasi yang kita butuhkan dari mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Dalam dunia pendidikan perkembangan teknologi informasi mulai dirasa mempunyai dampak yang positif karena dengan berkembangnya teknologi informasi dunia pendidikan mulai memperlihatkan perubahan yang cukup signifikan. Banyak hal yang dirasa berbeda dan berubah dibandingkan dengan cara yang berkembang sebelumnya. Saat sekarang ini jarak dan waktu bukanlah sebagai masalah yang berarti untuk mendapatkan ilmu, berbagai aplikasi tercipta untuk memfasilitasinya.

    Indonesia yang merupakan negara berkembang yangmana ketersediaan infrastruktur komunikasi yang masih minim mengakibatkan kesempatan setiap orang untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan menjadi terbatas. Hal ini dikarenakan di Indonesia penyebaran teknologi informasi dan komunikasi belum merata, sekarang ini hanya di kota-kota besar sajalah yang sudah dengan mudah menikmati dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia. Dengan demikian perkembangan pendidikan pun menjadi terhambat dan juga tidak merata.

    Salah satu wadah yang dirasa paling berperan dalam dunia teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia saat ini adalah internet. Informasi melalui media internet, bisa menjadi salah satu kunci untuk membuat dunia pendidikan di Indonesia mempunyai standar yang sama dengan negara lain. Dengan menggunakan media internet, pemerintah dan institusi pendidikan sudah mulai menerapkan pola belajar yang cukup efektif untuk diterapkan bagi masyarakat yang memiliki kendala dengan jarak dan waktu untuk mendapatkan informasi terutama informasi dalam dunia pendidikan. Salah satu metode yang mulai diterapkan yaitu pembelajaran distance learning. Metode distance learning merupakan suatu metode alternatif dalam pemerataan kesempatan dalam bidang pendidikan. Sistem ini diharapkan dapat mengatasi beberapa masalah yang ditimbulkan akibat keterbatasan tenaga pengajar yang berkualitas. Metode distance learning sangat membantu siswa atau masyarakat dalam mempelajari hal-hal atau ilmu-ilmu baru dengan tampilan yang lebih menarik dan mudah untuk dipahami. Dalam pengaksesan dan pemanfaatan metode ini, peran internet sangatlah diperlukan, karena melalui internet seseorang dapat mengirim file atau meng-upload file yang ingin dipublikasikan dan melalui internet juga seseorang dapat mengakses file yang ingin dicari. Selain metode distance learning, masih banyak metode-metode lain yang sangat membantu dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, diantaranya dengan adanya modul-modul pembelajaran gratis yang tersedia, portal pembelajaran online, dll.

    Jika kita bercermin ke negara lain, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia bisa dibilang cukup tertinggal. Peran pemerintah sangat diharapkan untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia. Pemerintah diharapkan dapat menyamaratakan perkembangan teknologi informasi disemua daerah di negara ini. Pemerintah diharapkan dapat membantu daerah-daerah yang penyampaian proses informasinya masih minim dan tidak hanya fokus pada daerah atau kota-kota besar saja seperti yang terjadi pada saat sekarang ini, karena pada kenyataannya peran daerah dalam mendukung perkembangan teknologi informasi dan perkembangan pendidikan di Indonesia sangatlah penting.

    Dengan belum meratanya penyebaran teknologi informasi akan berpengaruh terhadap proses perkembangan pendidikan. Hal ini dikarenakan peran teknologi informasi di dunia pendidikan sangatlah penting. Dengan adanya teknologi informasi segala macam ilmu pengetahuan dan informasi dapat diterima dan didapatkan dengan mudah dan cepat. Dalam kehidupan kita dimasa mendatang, sektor teknologi informasi dan komunikasi merupakan sektor yang paling dominan. Siapa saja yang menguasai teknologi ini, maka dia akan menjadi pemimpin dalam dunianya.

    C. E-Learning

    1. Pengertian E-learning

    E-Learning berasal dari bahasa inggris yang terdiri dari dua kata yaitu Elektronic dan Lear yang berarti belajar atau Learner yang berarti pelajar, disingkat dengan E-Learning, jadi E-Learning dapat diartikan Sistem belajar mengajar menggunakan media elektronik atau dapat diartikan sebagai sistem pembelajaran elektronik. E-Learning adalah pembelajaran jarak jauh (distance Learning) yang memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer dan/atau Internet.

    E-Learning memungkinkan pembelajar untuk belajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran/perkuliahan di kelas. E-Learning sering pula dipahami sebagai suatu bentuk pembelajaran berbasis web yang bisa diakses dari intranet di jaringan lokal atau internet. Sebenarnya materi E-Learning tidak harus didistribusikan secara on-line baik melalui jaringan lokal maupun internet, distribusi secara off-line menggunakan media CD/DVD pun termasuk pola E-Learning. Dalam hal ini aplikasi dan materi belajar dikembangkan sesuai kebutuhan dan didistribusikan melalui media CD/DVD, selanjutnya pembelajar dapat memanfatkan CD/DVD tersebut dan belajar di tempat di mana dia berada.

    Ada beberapa pengertian berkaitan dengan E-Learning sebagai berikut :

    a. Pembelajaran jarak jauh.

    E-Learning memungkinkan pembelajar untuk menimba ilmu tanpa harus secara fisik menghadiri kelas. Pembelajar bisa berada di Semarang, sementara “instruktur” dan pelajaran yang diikuti berada di tempat lain, di kota lain bahkan di negara lain. Interaksi bisa dijalankan secara on-line dan real-time ataupun secara off-line atau archieved.

    Pembelajar belajar dari komputer di kantor ataupun di rumah dengan memanfaatkan koneksi jaringan lokal ataupun jaringan Internet ataupun menggunakan media CD/DVD yang telah disiapkan. Materi belajar dikelola oleh sebuah pusat penyedia materi di kampus/universitas, atau perusahaan penyedia content tertentu. Pembelajar bisa mengatur sendiri waktu belajar, dan tempat dari mana ia mengakses pelajaran.

    b. Pembelajaran dengan perangkat komputer

    E-Learning disampaikan dengan memanfaatkan perangkat komputer. Pada umumnya perangkat dilengkapi perangkat multimedia, dengan cd drive dan koneksi Internet ataupun Intranet lokal. Dengan memiliki komputer yang terkoneksi dengan intranet ataupun Internet, pembelajar dapat berpartisipasi dalam E-Learning. Jumlah pembelajar yang bisa ikut berpartisipasi tidak dibatasi dengan kapasitas kelas. Materi pelajaran dapat diketengahkan dengan kualitas yang lebih standar dibandingkan kelas konvensional yang tergantung pada kondisi dari pengajar.

    c. Pembelajaran formal vs. informal

    E-Learning bisa mencakup pembelajaran secara formal maupun informal. E-Learning secara formal, misalnya adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak terkait (pengelola E-Learning dan pembelajar sendiri). Pembelajaran seperti ini biasanya tingkat interaksinya tinggi dan diwajibkan oleh perusahaan pada karyawannya, atau pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh universitas dan perusahaan-perusahaan (biasanya perusahan konsultan) yang memang bergerak di bidang penyediaan jasa E-Learning untuk umum. E-Learning bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi, organisasi dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau keterampilan tertentu pada masyarakat luas (biasanya tanpa memungut biaya).

    d. Pembelajaran yang ditunjang oleh para ahli di bidang masing-masing.

    Walaupun sepertinya E-Learning diberikan hanya melalui perangkat komputer, E-Learning ternyata disiapkan, ditunjang, dikelola oleh tim yang terdiri dari para ahli di bidang masing-masing, yaitu:

    1. Subject Matter Expert (SME) atau nara sumber dari pelatihan yang disampaikan

    2. Instructional Designer (ID), bertugas untuk secara sistematis mendesain materi dari SME menjadi materi E-Learning dengan memasukkan unsur metode pengajaran agar materi menjadi lebih interaktif, lebih mudah dan lebih menarik untuk dipelajari

    3. Graphic Designer (GD), mengubah materi text menjadi bentuk grafis dengan gambar, warna, dan layout yang enak dipandang, efektif dan menarik untuk dipelajari

    4. Ahli bidang Learning Management System (LMS). Mengelola sistem di website yang mengatur lalu lintas interaksi antara instruktur dengan siswa, antarsiswa dengan siswa lainnya.

    Di sini, pembelajar bisa melihat modul-modul yang ditawarkan, bisa mengambil tugas-tugas dan test-test yang harus dikerjakan, serta melihat jadwal diskusi secara maya dengan instruktur, nara sumber lain, dan pembelajar lain. Melalui LMS ini, siswa juga bisa melihat nilai tugas dan test serta peringkatnya berdasarkan nilai (tugas ataupun test) yang diperoleh.

    E-Learning tidak diberikan semata-mata oleh mesin, tetapi seperti juga pembelajaran secara konvensional di kelas, E-Learning ditunjang oleh para ahli di berbagai bidang terkait.

    2. Sejarah E-Learning

    E-Learning atau pembelajaran elektronik pertama kali diperkenalkan oleh universitas Illinois di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruction ) dan komputer bernama PLATO. Sejak itu, perkembangan E-learning dari masa ke masa adalah sebagai berikut:

    (1) Tahun 1990 :Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi e-learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan AUDIO) DALAM FORMAT mov, mpeg-1, atau avi.

    (2) Tahun 1994 : Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal.

    (3) Tahun 1997 : LMS (Learning Management System). Seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak , dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, SCORM, IEEE LOM, ARIADNE, dsb.

    (4) Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia , video streaming, serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar, dan berukuran kecil.

    3. Kelemahan dan Kelebihan E-Learning

    Seperti Sebagaimana yang disebutkan di atas, e-learning telah mempersingkat waktu pembelajaran dan membuat biaya studi lebih ekonomis. E-learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan/materi, peserta didik dengan dosen/guru/instruktur maupun sesama peserta didik. Peserta didik dapat saling berbagi informasi dan dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang, dengan kondisi yang demikian itu peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.

    Dalam e-learning, faktor kehadiran guru atau pengajar otomatis menjadi berkurang atau bahkan tidak ada. Hal ini disebabkan karena yang mengambil peran guru adalah komputer dan panduan-panduan elektronik yang dirancang oleh “contents writer”, designer e-learning dan pemrogram komputer.

    Dengan adanya e-learning para guru/dosen/instruktur akan lebih mudah :

    1. melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang mutakhir

    2. mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna meningkatkan wawasannya

    3. mengontrol kegiatan belajar peserta didik.

    Kehadiran guru sebagai makhluk yang hidup yang dapat berinteraksi secara langsung dengan para murid telah menghilang dari ruang-ruang elektronik e-learning ini. Inilah yang menjadi ciri khas dari kekurangan e-learning yang tidak bagus. Sebagaimana asal kata dari e-learning yang terdiri dari e (elektronik) dan learning (belajar), maka sistem ini mempunyai kelebihan dan kekurangan.

    III. KESIMPULAN

    Kemajuan perkembangan teknologi informasi pada saat ini sanagat pesat hal ni membawa dampak perubahan pada kehidupan salah satunya pada bidang pendidikan. Teknologi komunikasi dan informasi dengan mudan akan mrnghilangkan batasan-batasan ruang dan waktu yang selama ini membatasi ruang pendidikan. Hal ini disebabkan karena yang mengambil peran guru adalah komputer dan panduan-panduan elektronik yang dirancang oleh “contents writer”, designer e-learning dan pemrogram komputer.

    Dengan adanya e-learning para guru/dosen/instruktur akan lebih mudah :

    · melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang mutakhir.

    · mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna meningkatkan wawasannya.

    · mengontrol kegiatan belajar peserta didik, tanpa harus bertemu dengan peserta didik.

    Namun yang menjadi suatu elemahan dalam sistem pembelajaran ini adalah tidak adanya interaksi antara guru dan murid.

    REFERENSI

    Anonim. 2007. Pengertian E-Learning. Guna Darma. http://elearning.gunadarma.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=13&Itemid=39., Diakses pada tanggal 27 November 2011

    Anonim. 2011. Perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia. Guna Darma. http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/03/perkembangan-teknologi-informasi-3/., diakses pada tanggal29 November 2011

    Haris, Brandon. 2011. Pembelajaran Elektronik. Wikipedia Indonesia. WWW. Wikipedia Indonesia.com. Diakses pada tanggal 27 November 2011.

    Iradewa, Dearokhmatun. 2011. Perkembangan Teknologi Informasi. http://iradewa.chevonest.com/iptek/perkembangan-teknologi-teknologi-informasi-dan-komunikasi., Diakses pada tanggal 29 November 2011

    Maharsi, Sri. 2011. Pengaruh Perkembangan Tekhnolog. Terhadap Bidang Akutansi Managemen. Universitas kristen Petra. http;//Pulsit.Petra.ac.id/Journal/accounting/jurnal-akutansi&keuangan. Vol2.No.2November 2000;127-137

    Muslim. 2005. Teknologi Informasi Dalam Pendidikan. Upi. Bandung

    Purbo, Onno W. 2000. Konvergensi Teknologi Informasi dan Internet di Indonesia. http://abba.vlsm.org/v09/onno-ind-i/application/convergensi-teknologi-informasi-Internet-Indonesia-05-2000.rtf., Diakses pada tanggal 27 November 2011

    Romansya, Roma.2009. Perkembangan Teknologi dan Komunikaso dibidang Pendidikan di Indonesia. http://romansyah2006.wordpress.com/2009/09/04/perkembangan-teknologi-informasi-dan-komunikasi-di-bidang-pendidikan-di-indonesia/., Diakses pada tanggal 27 November 2011

    Suyanto, Asep Herman. 2005. Mengenal E-Learning. UGM. Yogyakarta. www.asep-hs.web-ugm.ac.id

    Audit Sistem Informasi

    Posted August 6th, 2011 by
    Categories: Management Information Systems

    Post by : Farliansyah , MM UBL 42 Eksekutif B

    AUDIT SISTEM INFORMASI

    I. Pendahuluan

    Audit merupakan sebuah kegiatan yang melakukan pemerikasaan untuk menilai dan mengevaluasi sebuah aktivitas atau objek seperti implementasi pengendalian internal pada sistem informasi akuntansi yang pekerjaannya ditentukan oleh manajemen atau proses fungsi akuntansi yang membutuhkan improvement. Proses auditing telah menjadi sangat rapi di Amerika Serikat, khususnya pada bidang profesional accounting association. Akan tetapi, baik profesi audit internal maupun eksternal harus secara terus menerus bekerja keras untuk meningkatkan dan memperluas teknik, karena profesi tersebut akan menjadi tidak mampu untuk mengatasi perkembangan dalam teknologi informasi dan adanya tuntutan yang semakin meningkat oleh para pemakai informasi akuntansi.

    Meskipun berbagai macam tipe audit dilaksanakan, sebagian besar audit menekankan pada sistem informasi akuntansi dalam suatu organisasi dan pencatatan keuangan dan pelaksanaan operasi organisasi yang efektif dan efisien.

    Secara garis besar perlunya pelaksanaan audit dalam sebuah perusahaan yang telah mempunyai keahlian dalam bidang teknologi informasi yaitu antara lain:

    A. Kerugian akibat kehilangan data.

    Data yang diolah menjadi sebuah informasi, merupakan aset penting dalam organisasi bisnis saat ini. Banyak aktivitas operasi mengandalkan beberapa informasi yang penting. Informasi sebuah organisasi bisnis akan menjadi sebuah potret atau gambaran dari kondisi organisasi tersebut di masa lalu, kini dan masa mendatang. Jika informasi ini hilang akan berakibat cukup fatal bagi organisasi dalam menjalankan aktivitasnya.

    Sebagai contoh adalah jika data nasabah sebuah bank hilang akibat rusak, maka informasi yang terkait akan hilang, misalkan siapa saja nasabah yang mempunyai tagihan pembayaran kredit yang telah jatuh tempo. Atau juga misalkan kapan bank harus mempersiapkan pembayaran simpanan deposito nasabah yang akan jatuh tempo beserta jumlahnya. Sehingga organisasi bisnis seperti bank akan benar-benar memperhatikan bagaimana menjaga keamanan datanya. Kehilangan data juga dapat terjadi karena tiadanya pengendalian yang memadai, seperti tidak adanya prosedur back-up file. Kehilangan data dapat disebabkan karena gangguan sistem operasi pemrosesan data, sabotase, atau gangguan karena alam seperti gempa bumi, kebakaran atau banjir.

    B. Kerugian akibat kesalahan pemrosesan komputer.

    Pemrosesan komputer menjadi pusat perhatian utama dalam sebuah sistem informasi berbasis komputer. Banyak organisasi telah menggunakan komputer sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pekerjaan mereka. Mulai dari pekerjaan yang sederhana, seperti perhitungan bunga berbunga sampai penggunaan komputer sebagai bantuan dalam navigasi pesawat terbang atau peluru kendali. Dan banyak pula di antara organisasi tersebut sudah saling terhubung dan terintegrasi. Akan sangat mengkhawatirkan bila terjadi kesalahan dalam pemrosesan di dalam komputer. Kerugian mulai dari tidak dipercayainya perhitungan matematis sampai kepada ketergantungan kehidupan manusia.

    C. Pengambilan keputusan yang salah akibat informasi yang salah.

    Kualitas sebuah keputusan sangat tergantung kepada kualitas informasi yang disajikan untuk pengambilan keputusan tersebut. Tingkat akurasi dan pentingnya sebuah data atau informasi tergantung kepada jenis keputusan yang akan diambil. Jika top manajer akan mengambil keputusan yang bersifat strategik, mungkin akan dapat ditoleransi berkaitan dengan sifat keputusan yang berjangka panjang. Tetapi kadangkala informasi yang menyesatkan akan berdampak kepada pengambilan keputusan yang menyesatkan pula.


    D. Kerugian karena penyalahgunaan komputer (Computer Abused)

    Tema utama yang mendorong perkembangan dalam audit sistem informasi dalam sebuah organisasi bisnis adalah karena sering terjadinya kejahatan penyalahgunaan komputer. Beberapa jenis tindak kejahatan dan penyalah-gunaan komputer antara lain adalah virus, hacking, akses langsung yang tak legal (misalnya masuk ke ruang komputer tanpa ijin atau menggunakan sebuah terminal komputer dan dapat berakibat kerusakan fisik atau mengambil data atau program komputer tanpa ijin) dan atau penyalahgunaan akses untuk kepentingan pribadi (seseorang yang mempunyai kewenangan menggunakan komputer tetapi untuk tujuan-tujuan yang tidak semestinya).

    • Hacking - seseorang yang dengan tanpa ijin mengakses sistem komputer sehingga dapat melihat, memodifikasi, atau menghapus program komputer atau data atau mengacaukan sistem.
    • Virus - virus adalah sebuah program komputer yang menempelkan diri dan menjalankan sendiri sebuah program komputer atau sistem komputer di sebuah disket, data atau program yang bertujuan mengganggu atau merusak jalannya sebuah program atau data komputer yang ada di dalamnya. Virus dirancang dengan dua tujuan, yaitu pertama mereplikasi dirinya sendiri secara aktif dan kedua mengganggu atau merusak sistem operasi, program atau data.

    Dampak dari kejahatan dan penyalahgunaan komputer tersebut antara lain:

    • Hardware, software, data, fasilitas, dokumentasi dan pendukung lainnya rusak atau hilang dicuri atau dimodifikasi dan disalahgunakan.
    • Kerahasiaan data atau informasi penting dari orang atau organisasi rusak atau hilang dicuri atau dimodifikasi.
    • Aktivitas operasional rutin akan terganggu.
    • Kejahatan dan penyalahgunaan komputer dari waktu ke waktu semakin meningkat, dan hampir 80% pelaku kejahatan komputer adalah orang dalam.

    E. Nilai hardware, software dan personil sistem informasi.

    Dalam sebuah sistem informasi, hardware, software, data dan personil adalah merupakan sumberdaya organisasi. Beberapa organisasi bisnis mengeluarkan dana yang cukup besar untuk investasi dalam penyusunan sebuah sistem informasi, termasuk dalam pengembangan sumberdaya manusianya. Sehingga diperlukan sebuah pengendalian untuk menjaga investasi di bidang ini.

    F. Pemeliharaan kerahasiaan informasi

    Informasi di dalam sebuah organisasi bisnis sangat beragam, mulai data karyawan, pelanggan, transaksi dan lainya adalah amat riskan bila tidak dijaga dengan benar. Seseorang dapat saja memanfaatkan informasi untuk disalahgunakan. Sebagai contoh bila data pelanggan yang rahasia, dapat digunakan oleh pesaing untuk memperoleh manfaat dalam persaingan.

    Pada saat komputer pertama kali digunakan, banyak auditor mempunyai pemikiran bahwa proses audit akan harus banyak mengalami perubahan untuk menyesuaikan dengan penggunaan teknologi komputer. Ada dua utama yang harus diperhatikan dalam audit atas pemrosesan data elektronik, yaitu pengumpulan bukti (evidence collection) dan evaluasi bukti (evidence evaluation)

    II. TUJUAN dan LINGKUP AUDIT SISTEM INFORMASI


    Tujuan Audit Sistem Informasi dapat dikelompokkan ke dalam dua aspek utama, yaitu:

    • Conformance (Kesesuaian) – Pada kelompok tujuan ini audit sistem informasi difokuskan untuk memperoleh kesimpulan atas aspek kesesuaian, yaitu : Confidentiality (Kerahasiaan), Integrity (Integritas), Availability (Ketersediaan) dan Compliance (Kepatuhan).
    • Performance (Kinerja) - Pada kelompok tujuan ini audit sistem informasi difokuskan untuk memperoleh kesimpulan atas aspek kinerja, yaitu : Effectiveness (Efektifitas), Efficiency (Efisiensi), Reliability (Kehandalan).


    A. PERAN AUDITOR dan AKUNTAN

    Sebagian besar jurusan akuntansi mengisi posisi internal maupun eksternal auditor dan akan sangat dilibatkan dalam program dan proses audit. Para akuntan pemerintah atau industri akan membantu auditor untuk mengevaluasi informasi yang dihasilkan dan mengendalikan kelemahan pada system. Mereka yang dilibatkan dalam sistem analisis dan desain diharapkan dapat mengembangkan sebuah sistem yang menyediakan informasi yang handal.
    Pemakaian auditor terus meningkat sebagai penasehat selama merancang pengembangan sistem. Auditor mungkin membantu dalam pemilihan ukuran keamanan dan kendali, menaksir cost, dan pengendalian keuntungan dan penentuan prosedur audit yang paling efektif.

    B. DEFINISI AUDIT SISTEM INFORMASI

    Merupakan suatu proses pengumpulan dan pengevaluasian bukti-bukti yang dilakukan oleh pihak yang independen dan kompeten untuk mengetahui apakah suatu sistem informasi dan sumber daya terkait, secara memadai telah dapat digunakan untuk:

    • melindungi aset,
    • menjaga integritas dan ketersediaan sistem dan data,
    • menyediakan informasi yang relevan dan handal,
    • mencapai tujuan organisasi dengan efektif,
    • menggunakan sumber daya dengan efisien,


    TIPE AUDIT

    Audit yang dilaksanakan sesuai tipe perusahaan yaitu operasional, compliance, pengembangan system, internal control, financial dan kecurangan audit. Empat jenis auditor yang dilibatkan dalam menyelenggarakan audit yang di list adalah:

    1. Internal auditor adalah karyawan perusahaan, yang pada umumnya melaksanakan compliance, operasional, pengembangan sistem, pengawasan intern dan kecurangan audit.
    2. Ekstenal auditor adalah akuntan publik independen yang ditugaskan oleh perusahaan, secara khusus melaksanakan audit keuangan. Dalam berbagai macam audit keuangan, eksternal auditor dibantu oleh internal auditor. akantetapi auditor eksternal yang bertanggung jawab untuk menegaskan kewajaran laporan keuangan.
    3. Goverment auditor, melaksanakan pemenuhan audit atau menguji laporan perusahaan atas pengawasan yang menyangkut para pegawai pemerintahan. sebagai contoh, pemeriksa bank pemerintahan melaksanakan audit bank, auditor yang dtugaskan oleh auditor negara yang umumnya melaksanakan audit daerah dan para pegawai pemerintah
    4. Fraud auditor, mengkhususkan dalam menyelidiki kecurangan dan bekerja secara tertutup dengan internal auditor dan pengacara. fraud examminer misalnya: kesatuan FBI penyelidikan kecurangan, perusahan besar akuntan publik , IRS, perusahaan asuransi.

    Jenis-jenis audit:

    1. Operational audit, terkonsen pada efisiensi dan efectifitas dengan semua sumberdaya yang digunakan untuk melaksanakan tugas, cakupanya meliputi kesesuaian praktik dan prosedur dengan peraturan yang ditetapkan
    2. Compliance audit terkonsentrasi pada cakupan undang-undang, peraturan pemerintah, pengendalian dan kewajiban badan eksternal lain yang telah diikut.
    3. Project manajement and change control audit,(dulu dikenal sebagai suatu pengembangan sistem audit) terkonsentrasi oleh efesiensi dan efektifitas pada berbagai tahap pengembangan sistem siklus kehidupan yang sedang diselenggarakan.
    4. Internal control audit terkonsentrasi pada evaluasi struktur pengendalian internal
    5. Financial audit terkonsentrasi pada kewajaran laporan keuangan yang menunjukan posisi keuangan, aliran kas dan hasil kinerja perusahaan.
    6. Fraud audit adalah nonrecurring audit yang dilaksanakan untuk mengumpulkan bukti untuk menentukan apakah sedang terjadi, telah terjadi atau akan terjadi kecurangan. Dan penyelesaian hal sesuai dengan pemberian tanggungjawab.

    BASIC AUDITING CONSIDERATIONS

    • Etika dan standar audit

    Kebutuhan akan etika. Setiap profesi mempunyai standar professional dalam bertingkah laku dan prakteknya. Statement ini ditulis dalam bentuk yang dapat dimengerti dan dapat dilaksanakan berdasarkan aturan yang ada. Kode etik auditor menunjukkan sikap dan prinsip yang harus ada pada auditor sehingga dapat memberikan kontribusi pada audit yang efektif, melindungi kepentingan pemilik perusahaan yang diaudit, dan menjaga hubungan yang baik dengan klien.
    Dalam lingkup auditing, kode etik disebut codes of professional conduct. Internal auditor mengikuti standar-standar praktik professional internal auditing. Sedangkan auditor eksternal mengikuti pernyataan standar auditing. kedua standar ini mempunyai banyak persamaan.
    Consultant independent yang berkecimpung dibidang manajemen dan system informasi juga mempunyai kode etik. Kode etik ini dikembangkan oleh AICPA yang serupa dengan standar auditor.

    • Isi dari standar

    Standar audit menentukan kualitas dan tingkah laku yang professional. Standar ini dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok yang pertama membicarakan mengenai standar umum audit yaitu berhubungan dengan profesionalitas, dan independensi. Sedangkan standar yang kedua membicarakan mengenai lingkup audit seperti halnya :

    1. eveluasi struktur pengendalian internal untuk menilai risiko pengendalian.
    2. review terhadap semua dokumen dan catatan yang bersangkutan.
    • Efek dari otomatisasi standar

    Ketika perusahaan menggunakan system informasi akuntansi berbasis computer, pasti akan berakibat pada prosedur audit yang ditetapkan. Di lain pihak, dengan penggunaan system teknologi tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Dengan kata lain, otomatisasi sangat tidak berpengaruh pada standar auditing professional yang berterima umum. Auditor dituntut untuk dapat menunjukkan profesionalismenya, termasuk pelatihan dan kecakapan yang memadai. Auditor diminta untuk mengikuti proses audit yang sama. Proses ini terdiri dari evaluasi terhadap internal control yang ada, termasuk saat menggunakan computer-oriented.

    Impact of computerization on audit procedures

    Seperti yang telah diterangkan, audit yang melibatkan SIA akan dipengaruhi oleh metode processing yang diterapkan.
    Luas/cakupan dari computer processing yang digunakan dalam aplikasi akuntansi, seperti halnya tingkat kompleksitas processing, mungkin juga berpengaruh terhadap sifat, timing, dan luas dari prosedur audit.

    Sebagai contoh, computer based system tidak menyediakan audit trail (jejak audit) yang nampak. Audit dalam sistem ini memerlukan hasil printout dari jurnal dan buku besar dan file record yang lain. Dengan penggunaan real-time processing system akan menambah tingkat kesulitan, dikarenakan sistem ini beroperasi tanpa membutuhkan dokumen sumber. Selain itu, sistem ini juga melakukan record secara update. Microcomputer hardware dapat dicuri dengan mudah dan dapat pila diakses oleh pihak-pihak yang tidak berwewenang. Sedangkan paket microcomputer software sering diproses tanpa pengecekan yang cukup. Network komputer memancarkan data ke berbagai wilayah terutama ke wilayah yang peka terhadap akses tanpa otorisasi dan gangguan. Jika keadaan ini mempengaruhi struktur internal control mak juga akan mempengaruhi proses audit.

    Dikarenakan tingginya tingkat kompleksitas dari computer based processing, maka dibutuhkan tipe auditor khusus yaitu auditor sistem informasi komputer atau the computer information system auditor (CISA). CISA menguasai skill khusus, misalnya pengetahuan mengenai hardware dan software komputer, database technology, data communications technology, and computer oriented control and audit technique. Idealnya, auditor seharusnya mengusai berbagai skill yang dimiliki CISA. Bagaimanapun, keberadaan CISA yang berpengetahuan yang lebih mengenai teknologi informasi akan selalu dibutuhkan untuk membantu proses audit dalam sistem komputer yang kompleks.

    Transaction cycle approach to auditing

    Beberapa survei mengenai proses transaksi telah berorientasi pada cycle approach (pendekatan siklus). Pendekatan ini, sangat berguna bagi proses audit karena auditor dapat memperoleh pemahaman yang mendalam tentang struktur internal control. Pendekatan ini juga dapat menyederhanakan audit review. Contohnya, penerapan control yang identik antara siklus revenue dengan siklus expenditure yang dikarenakan kedua siklus ini berhubungan, maka model proses yang diberikan juga sama.

    III. AUDITING PROCESS


    Terdapat lima tahap dalam audit keuangan, yaitu:

    1. Perencanaa audit pendahuluan
    2. Review pendahuluan dan assesment terhadap struktur pengendalian internal
    3. Pengujian pengendalian dalam audit
    4. Pengujian substantif
    5. Pelaporan audit


    1. Perencanaa audit pendahuluan

    Tahap pertama ini untuk menentukan kebutuhan audit serta menetapkan cakupan dan tujuan audit. Langkah selanjutnya mencari informasi mengenai industri perusahaan, meneliti kertas kerja tahun sebelumnya, mempersiapkan program audit, memperoleh pemahaman mengenai bisnis perusahaan dan mempersiapkan prosedur analitis. Prosedur analitis adalah tes untuk menguji hubungan antara data keuangan dan non keuangan dan untuk menyelidiki ketidakkonsistenan yang material.

    2. Review pendahuluan dan assesment terhadap struktur pengendalian internal

    Kegiatan yang dilakukan adalah:

    • Pemeriksaan, Dokumentasi, dan Penilaian Sistem Pengendalian Internal. Auditor harus memahami terlebih dahulu mengenai sistem pengendalian internal perusahaan. Dengan pemahaman tersebut, auditor dapat menilai kekuatan dan kelemahan sistem pengendalian internal. Auditor sebaiknya menggunakan berbagai teknik untuk mengumpulkan fakta, seperti memeriksa kembali catatan dan dokumen, mengamati kegiatan, interview dengan personel inti dan memberikan kuisioner.
    • Menilai dan Mengelompokkan Tingkat Resiko Pengendalian. Terdapat beberapa langkah :
    1. Auditor melakukan penilaian pendahuluan berkaitan dengan keefektifan operasi dalam struktur pengendalian internal dan pengendalian khusus yang diterapkan dalam SAI harus diidentifikasi.
    2. Auditor harus membuat judgement (penilaian) agar pengendalian internal yang diimplementasikan adalah pengendalian yang kritis dan mereka dapat bekerja sesuai yang ditentukan oleh manajemen.
    3. Auditor harus menilai setiap kekuatan pengendalian internal, sehingga risiko pengendalian dapat diperkirakan. Pada tingkat di mana risiko itu berada dalam suatu kisaran yang dapat diterima, auditor mempersiapkan program audit yang menunjukkan langkah pengujian kekuatan pengendalian yang terkait. Resiko pengendalian diartikan sebagai risiko yang menunjukkan pernyataan salah secara material dalam asersi-asersi yang mengarah pada kesalahan yang signifikan dalam laporan keuangan.
    • Keefektifan Biaya dalam Pengujian Pengendalian. Pengujian terhadap risiko pengendalian pendahuluan harus mempertimbangkan faktor biaya. Oleh karena itu alternatif yang mungkin bisa dilakukan oleh seseorang dengan adanya audit lebih memperluas prosedur pengujian substanstif.

    3. PENGUJIAN PENGENDALIAN DALAM AUDIT

    Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah :

    • Melakukan Pengujian Pengendalian. Pengujian pengendalian adalah pengumpulan bukti-bukti yang berfungsi secara efektif dan konsisten.
    • Mengevaluasi Pengujian Pengendalian yang diperoleh. Setelah memperoleh hasil-hasil pengujian, auditor dapat mengevaluasi efektifitas operasional dari sistem pengendalian internal. Bukti tersebut mendukung penemuan audit untuk tiap-tiap siklus transaksi yang dievaluasi. Evaluasi yang dihasilkan ini menunjukkan judgement auditor yang terbaik berkaitan dengan (a) memadainya pengendalian yang diamati dan (b) kemampuan menemukan ketidakcukupan hasil pengujian.
    • Penilaian Akhir terhadap Risiko Pengendalian. Berdasarkan evaluasi di atas auditor menilai tingkat risiko pengendalian tertentu untuk tiap-tiap kelompok transaksi yang utama. Tingkat risiko pengendalian akhir memberikan dasar untuk memperkirakan tingkat risiko yang terdeteksi yang akan datang, sifat, waktu, serta luasnya prosedur pengujian substantif.
    • Mengembangkan Program Audit Final. Program audit meliputi prosedur-prosedur khusus yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan audit. Auditor menyatakan sifat dan prosedur pengujian yang menunjukkan luas dan waktu dibutuhkan

    4. PENGUJIAN SUBSTANTIF

    Langkah-langkahnya adalah:

    1. Memilih dan Melaksanakan Pengujian Substanstif. Pengujian substantiv merupakan bagian terbesar dari program audit.Tujuan dari pengujian substantiv dalam audit keuangan adalah untuk memberikan asersi laporan keuangan yang valid yang dibuat oleh manajemen. Tiga pengujian substantiv tersebut adalah: (1) melakukan prosedur analitis final, (2) menguji rekening neraca, (3) menguji secara rinci kelompok-kelompok transaksi. Jumlah pengujian substantiv didasarkan pada risiko terdeteksi final untuk tiap-tiap golongan transaksi utama.
    2. Mengevaluasi Pengujian Substantif. Dalam evaluasi ini, hasil pengujian yang dapat diterima, untuk meminimalisasi kemungkinan kesalahan-kesalahan yang material dan pernyataan yang salah dalam asersi laporan keuangan. Hasil pengujian yang tidak dapat diterima memerlukan penambahan sample dalam transaksi sebelum audit dapat diselesaikan.


    5. PELAPORAN AUDIT

    Tahap final audit ini adalah untuk memberikan laporan audit berkaitan dengan permasalahan yang ada di perusahaan.Langkah-langkahnya adalah:

    • Mencatat Laporan Audit.
    • Mencatat Kondisi-kondisi yang dapat dilaporkan. Auditor harus membuat catatan atas kondisi-kondisi yang dilaporkan kepada dewan audit, mencakup kecurangan-kecurangan yang signifikan dalam perancangan atau operasi dari sistem pengendalian internal perusahaan.


    TEKNIK DAN PENDEKATAN PENGAUDITAN BERBASIS KOMPUTER

    Teknik yang spesifik hanya diaplikasikan untuk sistem informasi pemrosesan transaksi secara otomatis. Teknik ini dapat digunakan untuk pengujian pengendalian atau pengujian substantif. Namun begitu, sistem ini tidak bisa menggunakan sistem flowchart, data flow diagram dan kuisioner dalam mereview struktur pengendalian intern. Tiga teknik pengujian yang berbasis komputer (Computer Assisted Audit Techniques/CAAT) yaitu pengauditan sekitar komputer, pengauditan melalui komputer, pengauditan dengan menggunakan komputer. Auditor intern dan ekstern dapat menggunakan tiga teknik pendekatan ini secara efektif.

    Pengauditan Sekitar Komputer

    Pendekatan pengauditan sekitar komputer (auditing around the computer) memperlakukan komputer sebagai “kotak hitam”. Pendekatan ini difokuskan pada input dan outputnya. Asumsi yang mendasari pendekatan ini yaitu jika auditor dapat menunjukkan output yang aktual adalah hasil yang benar yang diharapkan dari sekumpulan input untuk sistem pemrosesan, maka pemrosesan komputer harus difungsikan menggunakan cara yang andal. Teknik yang penting dalam pendekatan ini meliputi penelusuran dan pemilihan transaksi dari dokuman sumber untuk meringkas transaksi dan catatan serta sebaliknya. Pendekatan pengauditan sekitar komputer adalah non processing data method. Auditor tidak menyiapkan simulated data transaction atau menggunakan file-file auditee yang aktual untuk memprosesnya dengan program komputer auditee. Pendekatan sekitar komputer akan tepat, jika kondisi berikut ini terpenuhi :

    1. Audit trail lengkap dan visible. Oleh karena itu dokumen sumber digunakan untuk semua transaksi, jurnal-jurnal terinci dicetak dan referensi transaksi dipindahkan dari jurnal ke buku besar dan laporan ringkas.
    2. Pemrosesan operasi yang secara relatif tidak rumit dan volumenya rendah.
    3. Dokumennya lengkap, seperti data flow diagram dan sistem flowchart, yang tersedia bagi auditor.

    Pengauditan Melalui Komputer

    Karena pendekatan sekitar komputer tidak mencukupi, pendekatan alternatif dibutuhkan untuk pengauditan berbasis komputer (auditing through the computer), yang secara langsung difokuskan pada tahap pemrosesan dan edit check, serta programmed check. Pendekatan ini disebut dengan pengauditan melalui komputer. Asumsi dari pendekatan ini adalah jika program dikembangkan dengan menambah programmed check, kesalahan (error) dan ketidakberesan akan dapat terdeteksi, sehingga dapat dikatakan dapat dipercaya.

    Pendekatan pengauditan melalui komputer dapat diaplikasikan untuk semua sistem otomatisasi pemrosesan yang kompleks. Bahkan jika biayanya efektif dan memungkinkan, pendekatan sekitar komputer dan pengauditan melalui komputer dapat dikerjakan untuk pekerjaan audit yang sama. Dengan mengerjakan secara bersamaan, keuntungannya menjadi lebih besar dan tujuan audit dapat tercapai.

    Pengauditan Dengan Menggunakan Komputer

    Pendekatan ini menggunakan komputer (auditing with the computer) untuk tujuan pengerjaan tahap-tahap program audit yang terinci. Pendekatan ini juga digunakan untuk mengotomatisasi aspek tertentu dalam proses pengauditan. Komputer ditransformasikan pada audit scene selama mereka dapat mengerjakan jumlah fungsi audit, seperti pengujian pengendalian dan pengujian substantive. Auditor dapat menggunakan paket-paket spreadsheet excel, untuk menciptakan spreadsheet yang berisi laporan keuangan dari perusahaan yang diaudit. Pengembangan yang lain adalah template, efek program dan format on screen dengan menggunakan paket software spreadsheet. Template ini memungkinkan auditor untuk mengerjakan tugas yang sebelumnya dikerjakan secara manual. Template didesain untuk membantu menyiapkan neraca, memelihara pengulangan pemasukan jurnal, mengevaluasi hasil sampel, penjadwalan dan mengelola waktu auditor dalam audit lapangan, melaksanakan pengujian yang masuk akal terhadap pengeluaran serta mengestimasi pengeluaran.

    Pendekatan pengauditan dengan komputer yang populer menggunakan software audit selama pengujian substantif terhadap catatan dan file perusahaan. Software audit secara umum terdiri dari kumpulan program rutin. Tipe software yang digunakan yaitu generalized audit software (GAS) yang terdiri dari satu atau lebih program rutin yang dapat diterapkan pada berbagai situasi dan berbagai tipe organisasi. GAS sering dipakai untuk melakukan substantive test dan digunakan test of control yang terbatas. Sebagai contoh GAS sering dipakai untuk mengetes fungsi algoritma yang komplek dalam program computer. Tetapi ini memerlukan pengalaman yang luas dalam penggunaan software ini.

    Audit Software, penggunaan software dalam melaksanakan audit dengan koputer dapat membantu dalam pengujian substantive catatan dan file perusahaan.
    Tipe software audit yang uama adalah GAS (Generalized Audi Software), yang terdiri dari satu atau lebih program yang applicable pada bernagai situasi audit pada suatu perusahaan. ACL (Audit Comand Language) merupakan interaktif, yang menghubungkan user dengan computer. ACL membantu auditor untuk untuk menganalisis data klien dengan beberapa fungsi, misalnya attribute sampling, histogram generation, record aging, file comparation, duplicate checking, dan file printing. Yang relative powerful, fleksibel dan mudah dipelajari.sehingga auditor dapat memodifikasi program untuk situasi khusus.

    Fungsi audit yang khas yang tersedia pada paket GAS:

    1. Extracting data from files, GAS harus mempunyai kemampuan untuk menyuling dan retrieve data dari berbagai struktur, media, dan bentuk catatan file pada saat digunakan untuk mengaudit perusahaan yang bervariasi. Setelah di suling, data diedit dan kemdian ditransfer pada audit work file, penyimpanan data tersedia untuk digunakan dengan program lain yang ada pada GAS
    2. Calculating With data,beberapa step dalam audit terdiri dai addition, subtraction, multiplication dan division operation. Contohnya koreksi jurnal dilakuka dengan menjural ulang.
    3. Performing comparisons with data, perbandingan mungkin dilakukan untuk menyeleksi data elemen untuk di tes untuk memastikan adanya konsistensi diantara data elemen dan untuk memverifikasi apakah kondisi tertentu telah didapat. GAS seharusnya menyediakan logical operator seperti equal, less than, dan greater than.
    4. Sumarizing data, data elements harus sering di ringkas untuk memberikan dasar untuk perbandingan. Contoh: list detail gaji harus diringkas untuk dibandingkan dengan laporan penggajian.
    5. Analyzing data, berbagai data harus dianalisis untuk memberikan dasar review atas trend perusahaan. Contohnya, piutang harus ditaksir umurnya utuk menentukan kemungkinan piutang tersebut dapat ditagih.
    6. Reorganizing data, data elemen perlu untuk di sortir atau digabungkan. Contohnya: berbaga produk yang dijual perusahaan boleh mungkin di re-sorted secara ascending berdasar jumlah total penjualan untuk membantu analisis penjualan.
    7. Select sample for testing. Dalam audit, tidak semua data dapat di uji. Sample harus diambil secara random. Contohnya sample customer dapat dipilih secara random dari catatan piutang dagang.
    8. Gathering statistical data, seorang auditor sering membutuhkan data-data statistik. Contohnya: mean dan median dari penjualan produk.
    9. Printing Confirmation Request, analyses, and other output

    Manfaat GAS:

    1. Memungkinkan auditor untuk mengakses catatan computer yang dapat dibaca untuk berbagai macam aplikasi dan organisasi.
    2. Memungkinkan auditor untuk memeriksa lebih banyak data daripada jika auditor masih menggunakan proses manual.
    3. Dapat melakukan berbagai macam fungsi audit secara cepat dan akurat, termasuk pemilihan sample secara statistic.
    4. Mengurangi ketergantungan pada nonauditing personel untuk melakukan peringkasan data, dengan demikian auditor dapat mengelola pengendalian audit yang lebih baik.
    5. Auditor hanya memerlukan pengetahuan yang cukup (tidak begitu dalam) tentang computer.

    Keterbatasan GAS:
    GAS tidak memeriksa application programe dan programmed check secara langsung sehingga tidak dapat menggantikan audit –through-the-computer-techniques.

    IV. KESIMPULAN

    Banyak kendala yang dijumpai auditor dalam melakukan audit dengan metode konvensional dalam lingkungan pemrosesan data elektronik. Namun seringkali kendala tersebut cenderung diabaikan dan kurang mendapat perhatian serius bahkan oleh si auditor sendiri. Akibatnya terjadi inefisiensi yang tidak disadari.

    Seringkali dalam lingkungan Pemrosesan Data Elektronik, volume dan kompleksitas data yang harus diperiksa jauh lebih besar dibandingkan dengan kemampuan auditor, akhirnya jalan pintas pun sering dilakukan, misalnya menggunakan sampling dilakukan secara acak tanpa memperhatikan apakah sampling tersebut cukup mewakili atau tidak.

    Juga kadang jika melakukan substantive test atas data hanya didasarkan pada print-out dengan cara manual, serta audit trail yang tidak terdeteksi karena sistem operasi telah terkomputerisasi.
    Pada akhirnya adalah kesimpulan audit dapat dipastikan tidak akan memadai, yang akhirnya opini terhadap laporan keuangan secara keseluruhan tidak memiliki dasar yang memadai dan gilirannya berdampak pada terciptalnya informasi yang menyesatkan.

    REFERENSI

    Dinata, Suriya. 2006. Audit Sistem Informasi terhadap Sistem Aplikasi Penilaian Karya. UBN

    Laudon, Kenneth dan Jane. 2007. Sistem informasi manajemen, mengelola perusahaan digital. Salemba Empat.

    Restianto, Yanuar, 2011, Audit Sistem Informasi menggunakan Active Data for Excel, Andi Publisher

    Sutabri, Tata. Sistem Informasi Manajemen. Buku Kita

    http://mansur12.wordpress.com/2008/06/10/audit-sistem-informasi/

    http://tips4student.blogspot.com/

    Post by : Farliansyah (11, 811, 2221) MM UBL 42 Eksekutif  B

    Sistem informasi mannajemen bab 6

    Posted May 15th, 2011 by
    Categories: e-Education, e-Learning

    Sistem Manajemen Basis Data (Database Management System /DBMS)

    Dalam Era Global saat ini Sistem Informasi Manajemen merupakan bagian yang tak terpisahkan dari suatu organisasi dimana sistem informasi yang menghasilkan hasil keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tertentu dalam suatu kegiatan manajemen. Dengan adanya  sistem informasi maka suatu organisasi akan berusaha  untuk lebih kompetitif dan efisien yang pada akhirnya menambah nilai untuk mendapatkan, mengubah dan mendistribusikan informasi dengan tujuan meningkatkan pengambilan keputusan, meningkatkan kirnerja organisasi dalam mencapai tujuan organsisasinya. Sebuah Sistem Informasi yang efektif menyediakan informasi yang akurat, tepat waktu dan relevan bagi penggunanya sehingga dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.
    Dalam  pengambilan keputusan, baik dalam operasional sehari-hari, maupun dalam perencanaan strategis ke masa depan. Proses pengambilan keputusan harus dilandasi oleh data dan informasi yang tepat waktu dan tepat isi agar keputusan yang diambil tepat sasaran. Informasi diperoleh dari pengolahan data, dan pengolahan data dilaksanakan oleh sistem informasi dengan dukungan teknologi informasi.
    Data adalah bahan baku informasi dan dikumpulkan dalam suatu basis-data (database) agar pengumpulan, penyimpanan, pemeliharaan, pengolahan, dan pengamanannya dapat dilaksanakan secara effektif dan effisien diperlukan manajemen data, sehingga suatu informasi tersebut dapat menjadi informasi yang tepat guna, tepat waktu, akurat dan relevan.
    Sebagai contoh suatu institusi akademik harus membangun database akademik, minimal memuat data mahasiswa, data dosen, data matakuliah, data ruangan, jadwal, sehingga dapat diperoleh informasi yang tepat tentang penyelenggaran akademik institusi tersebut. Dengan demikian agar suatu database yang efektif dapat dibangun, diperlukan pengetahuan dasar tentang database dan juga  Sistem Manajemen Basis Data.
    DEFINISI  DALAM ORGANISASI DATA BASE

    Data
    Data adalah sekumpulan baris fakta yang mewakili peristiwa yang terjadi pada organisasi atau pada lingkungan fisik sebelum diolah ke dalam format yang bisa dimengerti dan digunakan manusia. (Raymon McLeod, Jr )
    Data diambil dari bahasa latin, yang artinya “memberi”. Data adalah fakta yang diberikan, darimana kenyataan tambahan dapat ditarik menjadi kesimpulan (C.J. Date).
    Sedangkan menurut Kenneth C. Laudon. Jane P. Louden ( 2010) Data yaitu kumpulan fakta-fakta kasar yang menunjukan kejadian yang terjadi dalam organisasi atau lingkungan  fisik sebelum fakta tersebut diolah dan ditata mejadi bentuk yang dapat dipahami.
    Kaitan ‘data’ dengan ‘Informasi’ sangat erat sehingga pada pembicaraan sehari-hari terkadang kita sering menggunakannya untuk suatu hal serupa walaupun arti sebenarnya berbeda dimana data adalah kumpulan fakta-fakta, belum diolah dan ditata dan belum dapat dipahami oleh pengguna akhir sedangkanInformasi adalah data yang telah diolah sedemikian rupa sehingga memiliki makna tertentu bagi penggunanya.

    Database (Basis Data)
    Definisi Basisdata dapat didefinisikan  sebagai berikut :

    Kumpulan file-file yang saling berelasi, relasi tersebut ditunjukkan dengan kunci dari tiap file yang ada untuk digunakan dalam satu lingkup perusahaan, instansi (Kristanto, 1994).

    Kumpulan file data yang terorganisasi, terintegrasi, dan bisa dipakai bersama (C.J Date, 1981)

    Kumpulan rekaman data berbagai tipe yang memiliki relasi satu sama lain (Martin, 1977)

    Sekumpulan data organisasi untuk melayani banyak aplikasi secara efisien dengan memusatkan data dan mengendalikan redundansi data. (Kenneth C. Laudon. Jane P. Louden, 2010

    Kumpulan dari data yang saling terintegrasi satu dengan yang lainnya tersimpan dalam perangkat keras komputer dan menggunakan perangkat lunak untuk bantuan dalam mengoperasikannya ( ICT Database/Data Resources Management, Dr. Syopiansyah Jaya Putra, M.Sis, 2010).

    Sistem Basis Data (Database System)
    Sistem Basis Data adalah system terkomputerisasi yang tujuan utamanya adalah memelihara informasidan membuat informasi tersebut tersedia saat dibutuhkan (C.J Date, 1981).
    Sedangkan menurut  Dr. Syopiansyah Jaya Putra, M.Sis( 2010).Sistem Basis Data (Database system) adalah suatu informasi yang mengintegrasikan kumpulan dari data yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya dan membuatnya tersedia untuk beberapa aplikasi yang bermacam-macam di dalam suatu instansi.
    Konsep dasar dari basis data adalah kumpulan dari catatan-catatan, atau potongan dari pengetahuan. Sebuah basis data memiliki penjelasan terstruktur dari jenis fakta yang tersimpan di dalamnya: penjelasan ini disebut skema. Skema menggambarkan obyek yang diwakili suatu basis data, dan hubungan di antara obyek tersebut. Ada banyak cara untuk mengorganisasi skema, atau memodelkan struktur basis data: ini dikenal sebagai model basis data atau model data.
    Istilah basis data mengacu pada koleksi dari data-data yang saling berhubungan, dan perangkat lunaknya seharusnya mengacu sebagai sistem manajemen basis data (database management system/DBMS).

    SISTEM MANAJEMEN BASIS DATA (DATABASE MANAGEMENT SYSTEM /DBMS).

    DBMS (Database Management systems) adalah  kumpulan program yang meng-koordinasikan semua kegiatan yang berhubungan dengan basis data. ( ICT Database/-Data Resources Management, Dr. Syopiansyah Jaya Putra, M.Sis, 2010).
    Sedangkan menurut Asep Herman Suyanto (2004) Manajemen Sistem Basis Data (Database Management System / DBMS) adalah perangkat lunak yang didesain untuk membantu dalam hal pemeliharaan dan utilitas kumpulan data dalam jumlah besar. DBMS dapat menjadi alternative penggunaan secara khusus untuk aplikasi, semisal penyimpana data dalam fiel danmenulis kode aplikasi yang spesifik untuk pengaturannya.
    Database Management System (DBMS) atau Sistem Manajemen Basisdata adalah suatu sistem yang terdiri atas Basis-data dan Perangkat Lunak (Software / program) yang bertujuan untuk effektivitas dan effisiensi dalam pengelolaan basisdata
    Sistem manajemen basis data (DBMS) terdiri dari perangkat lunak yang dapat mengatur penyimpanan data. Sehingga memudahkan organisasi untuk memusatkan data, mengelola data secara efisien dan menyediakan akses data bagi program aplikasi.

    Sebuah DBMS mengendalikan pembuatan, pemeliharaan, dan penggunaan struktur penyimpanan database organisasi sosial dan pengguna mereka. Hal ini memungkinkan organisasi untuk menempatkan kontrol organisasi pengembangan database yang luas di tangan Database Administrator (DBAs) dan spesialis lain. Dalam sistem yang besar, sebuah DBMS memungkinkan pengguna dan perangkat lunak lain untuk menyimpan dan mengambil data dalam cara yang terstruktur.

    Perkembangan Database Management System (DBMS)
    Generasi pertama DBMS didesain oleh Charles Bachman di perusahaan General Electric pada awal tahun 1960, disebut sebagai penyimpanan data terintegrasi (Integrated Data Store). Dibentuk dasar untuk model data jaringan yang kemudian distandardisasi oleh Conference on Data System Languages (CODASYL).
    Bachman kemudian menerima ACM Turing Award (Penghargaan semacam Nobel
    pada ilmu komputer) di tahun 1973. Dan pada akhir 1960, IBM mengembangkan
    sistem manajemen informasi (Information Management System) DBMS. IMS
    dibentuk dari representasi data pada kerangka kerja yang disebut dengan model data
    hirarki. Dalam waktu yang sama, dikembangkan sistem SABRE sebagai hasil kerjasama antara IBM dengan perusahaan penerbangan Amerika. Sistem ini memungkinkan user untuk mengakses data yang sama pada jaringan komputer.

    Kemudian pada tahun 1970, Edgar Codd, di Laboratorium Penelitian di San Jose, mengusulkan model data relasional. Di tahun 1980, model relasional menjadi paradigma DBMS yang paling dominan. Bahasa query SQL dikembangkan untuk
    basis data relasional sebagai bagian dari proyek Sistem R dari IBM. SQL
    distandardisasi di akhir tahun 1980, dan SQL-92 diadopsi oleh American National
    Standards Institute (ANSI) dan International Standards Organization (ISO). Program
    yang digunakan untuk eksekusi bersamaan dalam basis data disebut transaksi. User
    menulis programnya, dan bertanggung jawab untuk menjalankan program tersebut
    secara bersamaan terhadap DBMS.

    Pada akhir tahun 1980 dan permulaan 1990, banyak bidang sistem basis data
    yang dikembangkan. Penelitian pada bidang basis data meliputi bahasa query yang
    powerful, model data yang lengkap, dan penekanan pada dukungan analisis data yang
    kompleks dari semua bagian organisasi. Beberapa vendor memperluas sistemnya
    dengan kemampuan penyimpanan tipe data baru semisal image dan text, dan
    kemampuan query yang kompleks. Sistem khusus/spesial dikembangkan oleh banyak
    vendor untuk membuat data warehouse, mengkonsolidasi data dari beberapa basis
    data.
    Pada tahun 1999, James Gray memenangkan Turing Award untuk kontribusinya pada manajemen transaksi dalam DBMS.

    Tujuan Database Management System (DBMS) :

    Tujuan utama DBMS adalah untuk menyediakan tinjauan abstrak dari data bagi user. Jadi sistem menyembunyikan informasi mengenai bagaimana data disimpan dan dirawat, tetapi data tetap dapat diambil dengan efisien. Pertimbangan efisien yang digunakan adalah bagaimana merancang struktur data yang kompleks, tetapi tetap dapat digunakan oleh pengguna yang masih awam, tanpa mengetahui kompleksitas struktur data. Basis data menjadi penting karena munculnya beberapa masalah bila tidak menggunakan data yang terpusat, seperti adanya duplikasi data, hubungan antar data tidak jelas, organisasi data dan update menjadi rumit. Jadi tujuan dari pengaturan data dengan menggunakan basis data adalah :
    -    Menyediakan penyimpanan data untuk dapat digunakan oleh organisasi saat sekarang dan masa yang akan datang.
    -    Kemudahan pemasukan data, sehingga meringankan tugas operator dan menyangkut pula waktu yang diperlukan oleh pemakai untuk mendapatkan data serta hak-hak yang dimiliki terhadap data yang ditangani.
    -    Pengendalian data untuk setiap siklus agar data selalu up-to-date dan dapat mencerminkan perubahan spesifik yang terjadi di setiap sistem.
    -    Pengamanan data terhadap kemungkinan penambahan, pengubahan, pengerusakan dan gangguan-gangguan lain.

    Sedangkan fungsi DBMS adalah :
    -    Penyimpanan, pengambilan dan perubahan data
    -    Katalog yang dapat diakses pemakai
    -    Mendukung Transaksi
    -    Melayani kontrol concurrency
    -    Melayani recovery
    -    Melayani autorisasi
    -    Mendukung komunikasi data
    -    Melayani integrity
    -    Melayani data independence
    -    Melayani utility.

    Manfaat Database Management System (DBMS)
    Manfaat yang diperoleh dari penyusunan database adalah :
    -    Mengatasi kerangka (redundancy) data.
    -    Menghindari terjadinya inkonsistensi data.
    -    Mengatasi kesulitan dalam mengakses data.
    -    Menyusun format yang standar dari sebuah data.
    -    Penggunaan oleh banyak pemakai (multiple user).
    -    Melakukan perlindungan dan pengamanan data (data security).
    -    Menyusun integritas dan independensi data.
    Keunggulan dan Kelemahan Database Management System (DBMS)
    Keunggulan DBMS antara lain :
    -    Mengurangi pengulangan data
    -    Mencapai independensi data
    -    Mengintegrasikan data dari beberapa file
    -    Mengambil data secara cepat, praktis
    -    Meningkatkan keamaanan data
    -    Terbaru (up to date).
    Kelemahan DBMS antara lain :
    -    Perangkat lunak yang mahal
    -    Konfigurasi perangkat keras yang besar
    -    Mempekerjakan dan mempertahankan DBA.

    Data Sub Language DBMS :
    Subset bahasa yang dipakai untuk operasi manajemen basis data :
    a.    Data Definition Language (DDL)
    Bahasa yang digunakan dalam mendefinisikan struktur atau kerangka dari basis data, di dalamnya     termasuk record, elemen data, kunci elemen, dan relasinya
    b.    Data Manipulation Language (DML)
    Bahasa yang digunakan untuk menjabarkan pemrosesan dari basis data, fasilitas ini  diperlukan untuk memasukkan, mengambil,     mengubah data.DML dipakai untuk operasi terhadap isi basis data.
    Komponen DBMS :
    1.    Query Processsor
    Merubah bentuk query ke dalam instruksi tingkat rendah ke database manager
    2.    Database Manager
    Menerima query dan menguji skema eksternal dan konseptual untuk menentukan apakah record-record dibutuhkan untuk memenuhi permintaan.
    3.    File Manager
    Manipulasi penyimpanan file dan mengatur alokasi ruang penyimpanan pada disk
    4.    DML Preprocessor
    Merubah perintah DML embedded ke dalam program aplikasi dalam bentuk
    fungsi-fungsi yang memanggil dalam host language.
    5.    DDL Compiler
    Merubah perintah DDL menjadi kumpulan tabel yang berisi metadata.
    6.    Dictionary Manager
    Mengatur akses dan memelihara data dictionary.

    Model Database
    Sistem manajemen database biasanya dikategorikan menurut model database yang mereka mendukung, seperti jaringan, model relasional atau obyek. Model cenderung untuk menentukan bahasa query yang tersedia untuk mengakses database.
    Fungsi dari Model Database ini adalah  untuk merepresentasikan data sehingga data tersebut mudah dipahami.
    Model Database adalah  kumpulan konsep yang terintegrasi yang menggambarkan data, hubungan antara data dan batasan-batasan data dala suatu organisasi.
    Terdapat dua model data dalam DBMS sebagai berikut :
    a.    Model Data Berbasis Objek
    Yaitu suatu model data yang  menggunakan konsep entitas, atribut dan  hubungan antar entitas.  Jenis model data berbasis objek yang umum adalah :
    -    Entity-relationship
    -    semantic
    -    functional
    -    object-oriented

    b.  Model data berbasis record
    Yaitu Model Data  yang  terdiri dari sejumlah record dalam  bentuk yang tetap yang dapat dibedakan dari bentuknya.  Ada 3 macam jenis yaitu :
    -    model data relasional (relational)
    -    model data hierarkhi (hierarchical)
    -    model data jaringan (network)

    MERANCANG BASIS DATA
    Untuk membuat basis data kita harus memahami bubungan diantara data, jenis data yang akan dipelihara di dalam basis data, bagaimana data tersebut akan digunakan, dan bagaimana organisasi mengikuti perubahan dalam mengelola data dalam perspektif keseluruhan organisasi.
    Basis Data memerlukan rangcangan konseptual dan rancangan fisik. Rancangan konseptual atau logis dari sebuah basis data adalah model abstrak dari basis data sedangkan rancangan fisik memperlihatkan bagaimana basis data tersebut sebenarnya tersusun pada perangkat penyimpanan data dengan akses yang langsung. Tantangan dalam merancang database adalah bagaimana merancang sehingga database dapat memenuhi keperluan saat ini dan masa mendatang
    Tujuan Merancang Basis Data
    -    Untuk memenuhi informasi yang berisikan kebutuhan-kebutuhan user secara khusus dan aplikasi-aplikasinya.
    -    Memudahkan pengertian struktur informasi
    -    Mendukung kebutuhan-kebutuhan pemrosesan dan beberapa obyek penampilan (response time, processing time, dan storage space)

    Sedangkan Proses menciptakan database  mencakup 6 fase yaitu :
    -    Fase 1 : Pengumpulan data dan analisa
    -    Fase 2 : Perancangan database secara konseptual
    -    Fase 3 : Pemilihan DBMS
    -    Fase 4 : Perancangan database secara logika (pemetaan model data)
    -    Fase 5 : Perancangan database secara fisik
    -    Fase 6 : Implementasi sistem database

    Pengembangan Sistem
    Pengembangan system terdiri atas sederetan kegiatan yang dapat dikelompokan menjadi beberapa tahapan. Ada berbagai pembagian tahapan dalam pengembangan system yaitu :
    -    Metodologi yang disebut Waterfall atau air terjun yang membagi daur pengembangan system menjadi 6 tahapan : konsepsi, pendahuluan, analisis, perancangan, implementasi dan pengujian..
    -    McLeod mengemukakan 4 tahapan : perencanaan, analisis, perancangan dan implementasi.
    -    Fabbri dan Schwab membaginya menjadi 5 tahapan : studi kelayakan, rencana pendahuluan, analisis system, perancamgan system danimplementasi system

    Tahapan studi kelayakan
    Tahapan ini merupakan identifikasi terhadap kebutuhan system baru, identifikasi tidak hanya didasarkan oleh kebutuhan-kebutuhan baru tetapi harus memperhatikan kebutuhan pada system yang sudah ada. Hasil tahapan ini berupa daftar kebutuhan, perkiraan biaya untuk membuat system baru dan juga solusi yang dikehendaki.
    Tahapan rencana pendahuluan
    Tahapan ini menentukan lingkup proyek atau system yang akan ditangani, hal ini digunakan untuk menentukan jadwal proyek. Biasanya dijabarkan dalam diagram aliran data (DAD). DAD menunjukan fungsi-fungsi dalam system, cara menggunakan informasi yang tersimpan dan pemindahan informasi antar fungsi didalam system.
    Tahapan analisis system
    Analis system sering berdialog dengan pengguna untuk memperoleh informasi detil kebutuhan pengguna. Kemudian hasil yang didapat dipakai sebagai bahan untuk menyusun DAD system baru. Untuk memperinci DAD, item-item yang terdapat pada aliran data dan juga yang terdapat pada penyimpanan data dijabarkan dalam bentuk kamus data. Kamus data adalah deskripsi formal mengenai seluruh elemen yang tercakup dalam DAD.
    Tahapan perancangan system
    Tahapan perancangan system dibagi menjadi 2 bagian :
    1.    Perancangan basis data, merupakan langkah untuk menentukan basis data yang diharapkan dapat mewakili seluruh kebutuhan pengguna berdasarkan kamus aliran data yang telah dibuat.
    2.    Perancangan Proses

    Tahapan implementasi system
    Tahapan implementasi system mencakup pengkodean program, pengujian program, pemasangan program dan pelatihan pada pengguna. Setelah tahap ini berakhir maka akan sampai pada tahapan penggunaan aplikasi oleh pengguna
    KESIMPULAN

    1. Database merupakan kumpulan dari data yang saling terintegrasi satu dengan yang lainnya, tersimpan dalam perangkat keras komputer dan menggunakan perangkat lunak untuk bantuan dalam mengoperasikannya.
    Database merupakan  komponen dasar dari sebuah sistem informasi dan pengembangan serta penggunaannya sebaiknya dipandang dari perspektif kebutuhan organisasi yang lebih besar. Oleh karena itu siklus hidup sebuah system informasi organisasi berhubungan dengan siklus hidup sistem database yang mendukungnya.

    2. Sistem Manajemen Basis Data adalah perangkat lunak yang mendukung
    Manajemen data dalam jumlah besar. DBMS menyediakan akses data yang efisien, kebebasan data, integritas data, keamanan, dan pengembangan aplikasi yang cepat, mendukung akses bersamaan dan perbaikan dari kerusakan
    DBMS (Database Management systems) adalah kumpulan program yang mengkoordinasikan semua kegiatan yang berhubungan dengan basis data.
    3. Tujuan Merancang Basis Data  adalah untuk memenuhi informasi yang berisikan kebutuhan-kebutuhan user secara khusus dan aplikasi-aplikasinya., memudahkan pengertian struktur informasi serta mendukung kebutuhan-kebutuhan pemrosesan dan beberapa obyek penampilan (response time, processing time, dan storage space).

    DAFTAR REFERENSI

    Asep Herman Suyanto, asep-hs@mail.ugm.ac.id , http://www.asep-hs.web.ugm.ac.id
    Faisal Akib http://teknik-informatika.com/about-faisal-akib/
    http://krida85.wordpress.com/2008/04/16/pengertian-basis-data
    Rakhmatkopero.blogspot.com/2008/05/sistem-basis-data_21.html – 68k
    Kenneth C. Laudon. Jane P. Louden, ( Management Information System, Managing The Digital Firm, 2007).
    Dr. Syopiansyah Jaya Putra, M.Sis, ( ICT Database/Data Resources Management, 2010). Dikutip dari Syopian Blog >>Blog Archive>>Sistem Manajemen Basis Data

    TIPS MEMBELI BLACKBERRY BEKAS

    Posted February 17th, 2011 by
    Categories: Management Information Systems

    InetBerry - Membeli BlackBerry bekas tidaklah sesederhana seperti membeli ponsel bekas lainnya. Jangan sampai tertipu. Ada beberapa hal yang harus Anda cermati sebelum memutuskan untuk membelinya.

    Anda jelas perlu memeriksa dengan teliti spesifikasi produknya. Alasannya, banyak pengguna akhirnya tak bisa akses sama sekali layanan karena PIN disuspen (ditolak) atau sebelumnya menggunakan jenis layanan operator berbeda (PIN belum dirilis).

    Salah satu cara mudah dalam persoalan spesifikasi ini bisa dilakukan dengan melakukan WIPE BlackBerry alias mereset secara manual perangkat agar data yang ada sebelumnya bisa hilang. Cara WIPE adalah sebagai berikut:

    Masuk menu OPTIONS >> SECURITY OPTIONS >> GENERAL SETTINGS >> Tekan logo BlackBerry disamping gambar telepon hijau >> Pilih menu WIPE HANDHELD >> Ketikan tulisan BlackBerry. Proses WIPE pun berjalan.

    Jika proses itu sudah tuntas, maka masukkan SIM Card Anda yang sudah bisa mengakses layanan BlackBerry.

    Lihat logo tulisan di gprs/edge/3g di sebelah kanan layar ponsel Anda. Apabila tulisannya masih huruf kecil, kemungkinan besar PIN ponsel disuspen. Cara ini juga bisa memastikan bahwa memori selanjutnya akan kosong, tidak lagi terisi berbagai aplikasi bawaan dari pemilik sebelumnya.

    Di sisi lain, Anda juga bisa mencoba memperbesar huruf kapital tadi dengan masuk menu OPTIONS, lalu ADVANCED OPTIONS, lalu HOST ROUTING TABLE, lalu klik simbol BlackBerry, dan selanjutnya pilih menu REGISTER NOW.

    Apabila dua cara ini dilakukan dan huruf masih kecil, besar kemungkinan suspen atas personel identification number/PIN masih terjadi sehingga BlackBerry bekas hanya bisa menelepon dan SMS. Pembeli unit seken juga tak kalah penting memeriksa IT policy dengan melakukan sebagai berikut:

    Masuk menu OPTIONS >> SECURITY OPTIONS >> FIREWALL.  Jika muncul tulisan enabled  dengan logo gembok merah di sebelahnya, maka BlackBerry bekas terkena kebijakan internet dari pengguna sebelumnya.

    Kebijakan sebelumnya, misalnya BlackBerry Entreprise Service (BES), akan membuat Anda tidak bisa mengakses layanan internet di luar yang telah ditentukan sehingga kenyamanan berselancar di dunia maya akan terganggu. 

    Jadi, dua kunci utama dalam membeli BlackBerry bekas adalah memastikan bahwa PIN tidak disuspen dan layanan sudah bebas dari kebijakan pengguna sebelumnya (PIN sudah dirilis). Prosedur lainnya yang tidak kalah penting adalah memperhatikan kesesuaian nomor PIN dan IMEI di menu status dengan di dus BlackBerry Anda.

    Jika ternyata berbeda, sangat disarankan untuk tidak dibeli daripada berabe di kemudian hari. Saran lainnya, sama saja dengan membeli ponsel standar. Misalnya kondisi barang (mulus atau tidak), kualitas microphone, tata letak keypad, efek vibrator, dan lainnya.

    Yang jelas, membeli BlackBerry bekas tidaklah sesederhana seperti membeli ponsel bekas lainnya. Jangan sampai tertipu!
    Artikel ini juga terangkum dalam buku “BlackBerry for Everyone” karya Muhammad Sufyan yang berdomisili di Bandung

    YENI HANDAYANI  MM STEKPI ANGKATAN V

    Membuat Bootable CD Installer Windows XP Sendiri

    Posted February 16th, 2011 by
    Categories: Others, e-Knowledge

    Oleh: Febriet Eksadhi P (10211003)

    MM STEKPI ANGKATAN V

    Bagaimana cara membuat bootable CD Setup Windows XP? jika yang klaian punya adalah file hasil copy dari CD. Jika file tersebut di copy begitu saja ke CD untuk melakukan instalasi Windows XP, maka CD tersebut tidak akan bisa dipakai untuk boot. Dengan membuat CD/DVD Instalasi Windows XP sendiri, Anda juga bisa memasukkan Service Pack (SP), update dan hotfix, Driver hardware seperti driver motherboard, VGA, dll ke instalasi Windows XP. Jadi dengan cara ini Anda bisa membuat CD/DVD Instalasi Windows XP yang terintegrasi dengan update, hotfix, driver dan sedikit tweak. Selain itu, dalam proses instalasi windows XP tersebut Anda tidak usah lagi menungguinya untuk memjawab semua pertanyaan yang muncul.

    Untuk membuat CD/DVD Instalasi Windows XP yang terintegrasi dengan driver, hotfix dan update ini, Anda memerlukans ebuah software bernama NLite. Anda bisa mendownload Nlite di http://www.nliteos.com/.

    1. Mengintegrasikan Hotfix Windows XP

    Untuk mengintegrasikan hotfix, add-on dan update ke setup Windows XP, Anda bisa menggunakan setup Windows XP yang sudah Anda copy ke harddisk dan telah anda integrasikan dengan service pack pada tutorial kemarin. Jadi, hasil akhirnya, setup Windows XP sudah berisi service pack serta hotfix, add-on serta update. Berikut langkah-langkahnya:

    1. Buka program NLite. Pada jendela pertama klik Next.
    2. Pada jendela selanjutnya, klik tombol Browse untuk menentukan lokasi folder Setup Windows XP.
    3. Browse Setup Windows XP

    4. Berikutnya, di jendela Browse For Folder, pilih folder tempat Anda mengcopy CD Setup Windows XP pada langkah pertama tadi. Tunggu hingga proses scanning yang dilakukan NLite selesai. Klik Next untuk melanjutkan.
    5. Pilih Folder Setup Windows XP

    6. Selanjutnya akan muncul jendela Import Preset. Di jendela ini Anda bisa mengimport sesi yang pernah Anda lakukan sebelumnya. Lewati saja langkah ini dengan mengklik Next.
    7. Di jendela selanjutnya, Anda diminta untuk menetukan apa saja yang ingin Anda integrasikan ke CD Setup Windows XP nantinya. Karena kemarin Anda sudah mengintegrasikan service pack maka hari ini cukup klik tombol Hotfix, Add-On and Update Packs. Untuk opsi yang lain, tidak usah ditandai karena akan saya bahas pada artikel selanjutnya. Kemudian klik Next.
    8. Pilih Opsi Hotfix

    9. Setelah itu, di jendela berikutnya klik tombol Insert yang berada di pojok kanan bawah untuk memilih file Hotfix atau Add-On atau Update Packs yang ingin Anda masukkan. Pada tutorial ini saya mengintegrasikan sebuah Hotfix saja pada setup.
    10. Masukkan Hotfix

    11. Ulangi mengklik tombol Insert jika Anda ingin memasukkan Hotfix, Add-on atau update yang lain. Jika semuanya sudah Anda masukkan, klik Next untuk melanjutkan.
    12. Selanjutnya akan muncul sebuah pesan yang bertuliskan Do you want start the process? klik Yes untuk memulai proses.
    13. Dialog Start

    14. Proses integrasi Hotfix, Add-on dan Update akan berjalan dan tunggu hingga proses ini selesai.
    15. Proses Integrasi Hotfix

    16. Jika proses telah selesai, klik Next dan terakhir klik Finish.

    2. Mengintegrasikan Service Pack

    nda bisa mengintegrasikan SP 1, SP 2 maupun SP 3 ke CD setup Windows XP Anda. Berikut langkah-langkahnya:

    1. Copy CD Setup Windows XP Anda ke sebuah folder di hard disk.
    2. Setelah proses copy CD Setup XP selesai, buka program NLite.
    3. Pada jendela Wizard yang pertama, klik tombol Next.
    4. Selanjutnya, klik tombol Browse untuk menentukan lokasi folder Setup Windows XP.
    5. Browse Setup Windows XP

    6. Pada jendela Browse For Folder, pilih folder tempat Anda mengcopy CD Setup Windows XP pada langkah pertama tadi. Tunggu hingga proses scanning yang dilakukan NLite selesai. Klik Next untuk melanjutkan.
    7. Pilih Folder Setup Windows XP

    8. Berikutnya akan muncul jendela Import Preset. Di jendela ini Anda bisa mengimport sesi yang pernah Anda lakukan sebelumnya. Karena Anda baru pertama kali menggunakan NLite, maka Anda tidak usah mengimport sesi. Untuk itu, klik Next untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.
    9. Di jendela selanjutnya, Anda diminta untuk menetukan apa saja yang ingin Anda integrasikan ke CD Setup Windows XP nantinya. Klik pada setiap tombol yang Anda ingin integrasikan. Karena pada artikel ini Anda akan mengintegrasikan Service Pack, maka klik tombol Service Pack. Untuk opsi yang lain, tidak usah ditandai karena akan saya bahas pada artikel selanjutnya. Kemudian klik Next.
    10. Pilih Opsi Service Pack

    11. Setelah itu, di jendela berikutnya, Anda diminta menentukan lokasi Service Pack. Klik tombol Select dan pilih file Service Pack yang akan di integrasikan melalui jendela Select Service pack yang muncul
    12. Tombol Select Service Pack
      Pilih File Service Pack

    13. NLite akan melakukan proses ekstrak dan integrasi Service Pack. Tunggu hingga proses ekstrak selesai.
    14. Proses Ekstrak Service Pack

    15. Apabila proses tadi selesai dan klik Next untuk melajutkan.
    16. Pada jendela terakhir klik Finish untuk mengakhiri.

    3. Mengintegrasikan Driver

    Cara menambahkan driver ke setup Windows XP dengan NLite langkah-langkahnya hampir sama dengan 2 (dua) langkah sebelumnya yang saya sebutkan di atas tadi.

    1. Buka NLite. Pada jendela pertama klik Next.
    2. Di jendela kedua, klik tombol Browse untuk menentukan lokasi folder Setup Windows XP.
    3. Browse Setup Windows XP

    4. Selanjutnya, di jendela Browse For Folder, pilih folder setup Windows XP yang sudah di copy ke harddisk. Jika Anda telah melakukan tutorial sebelumnya, Anda bisa menggunakan setup tersebut. Tunggu hingga proses scanning yang dilakukan NLite selesai. Klik Next untuk melanjutkan.
    5. Pilih Folder Setup Windows XP

    6. Selanjutnya akan muncul jendela Import Preset. Di jendela ini Anda bisa mengimport sesi yang pernah Anda lakukan sebelumnya. Lewati saja langkah ini dengan mengklik Next.
    7. Berikutnya, Anda diminta untuk menetukan apa saja yang ingin Anda integrasikan ke CD Setup Windows XP nantinya. Karena kemarin Anda sudah mengintegrasikan Service Pack serta Hotfix, Add-On and Update Packs, maka klik tombol Driver. Untuk opsi yang lain, tidak usah ditandai karena akan saya bahas pada artikel selanjutnya. Kemudian klik Next.
    8. Pilih Opsi Driver

    9. Setelah itu, pada jendela selanjutnya, Insert yang berada di pojok kanan bawah. Anda akan diberikan dua pilihan yaitu Single Driver atau Multiple Drivers.
      Insert Driver

      • Jika Anda ingin mengintegrasikan driver yang terdiri dari banyak driver lain dalam satu folder, pilih Multiple Driver. Contohnya, driver motherboard. Biasanya driver motheroard terdiri dari banyak driver. Seperti driver Audio, LAN Card, VGA, chipset dan lain-lain. Setelah Anda mengklik Multiple Driver, maka akan muncul jendela Browse For Folder.
        Pilih Folder Driver
        Pilih folder driver dan klik OK. Selanjutnya, akan muncul jendela Select Driver. Pada jendela ini, Anda bisa memilih driver yang mana saja akan disertakan. Jika Anda kurang paham driver mana yang mesti dimasukkan, pilih semua driver dan klik OK.
      • Pilih Driver

      • Sebaliknya, jika Anda hanya memilih driver yang tidak terdiri dari banyak driver, pilih Single Driver. Contohnya, driver Modem. Maka akan muncul sebuah jendela dan Anda diminta menentukan file .inf dari driver yang ingin dimasukkan. Pilih file .inf dari driver dan klik Open.
      • Pilih inf - Single Driver

        Klik gambar untuk memperbesar

      Ulangi 2 (dua) langkah tadi untuk memasukkan driver yang lain. Jika semua driver sudah Anda masukkan, klik Next untuk melanjutkan.

    10. Jika muncul sebuah pesan yang bertuliskan Do you want start the process? klik Yes untuk memulai proses.
    11. Dialog Start

    12. Proses integrasi driver akan dimulai dan tunggu hingga proses ini selesai.
    13. Proses Integrasi Hotfix

    14. Jika proses telah selesai, klik Next dan terakhir klik Finish.

    4. Membuat Unattended Setup Windows XP

    Dengan membuat unattended setup Windows XP, Anda tidak perlu lagi menunggui instalasi Windows XP untuk menjawab beberapa pertanyaan yang muncul pada setup wizard. Jadi ketika setup sudah berjalan, Anda bisa meninggalkannya dan kembali lagi ke komputer setelah proses instalasi selesai.

    Cara membuat unattended setup Windows XP

    1. Seperti biasa, pertama copy terlebih dahulu setup Windows XP ke dalam sebuah folder pada harddisk. Apabila Anda sudah melakukan beberapa tutorial NLite sebelumnya, langkah ini bisa Anda lewati.
    2. Buka program NLite dan pada jendela pertama klik Next.
    3. Berikutnya klik tombol Browse untuk menentukan lokasi folder Setup Windows XP.
    4. Browse Setup Windows XP

    5. Selanjutnya, di jendela Browse For Folder, pilih folder setup Windows XP yang sudah di copy ke harddisk. Jika Anda telah melakukan tutorial sebelumnya, Anda bisa menggunakan setup tersebut. Tunggu hingga proses scanning yang dilakukan NLite selesai. Klik Next untuk melanjutkan.
    6. Pilih Folder Setup Windows XP

    7. Pada jendela Import Preset, lewati saja langkah ini dengan mengklik Next.
    8. Kemudian, pilih Unattended Setup pada jendela berikutnya dan klik Next.
    9. Selanjutnya, Anda akan masuk ke tahap pengisian opsi unattended. Pada jendela ini, Anda mesti melengkapi beberapa input yang nantinya merupakan jawaban atas pertanyaan yang biasanya muncul pada proses instalasi Windows XP. Berikut beberapa hal penting yang harus lengkapi agar proses instalasi Windows XP nantinya berjalan lancar:
      • Pertama klik tab General. Pada tab ini, pilih Hide Pages pada opsi unattended mode. Kemudian isi product key Windows XP pada input Product Key. Jangan samapai salah dalam memasukkan product key. Jika salah, setup Windows XP bisa saja gagal.
      • Unattended General

        Klik gambar untuk memperbesar

      • Setelah selesai mengisi input pada tab General, klik tab Users. Pada tab ini Anda bisa membuat user account yang nantinya akan Anda gunakan untuk login ke Windows. Untuk itu klik tombol Add. Masukkan Username yang Anda inginkan pada input Username, password pada input Password. Input password ini bersifat opsional. Anda bisa memberikan password dan bisa juga tidak dengan menandai opsi Blank Password.
        Unattended User

        Klik gambar untuk memperbesar

        Tak lupa pilih tipe account Anda, apakan Administrator atau bukan dengan memilihnya pada opsi Local Group. Kemudian klik tombol Add. Jika Anda ingin agar account Anda tersebut login otomatis ketika selesai menginstall Windows, pilih username Anda pada opsi Autologon.

      • Apabila semua input yang diperlukan pada tab Users sudah selesai Anda isi, klik tab Owner and Network ID. Masukkan nama komputer pada Computer Name, nama workgroup pada Workgroup (opsional. Jika nantinya Anda terhubung ke sebuah jaringan LAN, masukkan nama Workgroup LAN tersebut), nama organisasi pada Organization (opsional).
      • Unattended Owner

        Klik gambar untuk memperbesar

      • Setelah selesai pada tab Owner and Network ID, klik tab Regional. Pada tab ini lengkapi beberapa opsi yang diperlukan. Pilih bahasa yang ingin digunakan pada opsi Language. Di bawahnya, tandai opsi Custom. Kemudian pilih Indonesian pada Localization, US pada opsi Keyboard, Default pada Location, dan pilih zona waktu Anda pada Timezone.
      • Unattended Regional

        Klik gambar untuk memperbesar

      • Selanjutnya yang terakhir, klik tab Display. Pilih kedalaman warna yang sesuai pada Color Depth, resolusi layar pada Resolution, dan Refresh Rate. Sesuaikan ketiga pengaturan tadi dengan kemampuan VGA dan monitor Anda.
      • Unattended Display

        Klik gambar untuk memperbesar

      Jika kelima pengaturan tadi sudah Anda lengkapi, saatnya melanjutkan ke tahap berikutnya yaitu melakukan proses integrasi ke setup Windows XP. Namun, sebelumnya perlu kiranya Anda periksa kembali kelima pengaturan tadi agar memperkecil terjadinya kesalahan. Jika semuanya Anda rasa sudah beres, klik Next untuk melanjutkan.

    10. Jika muncul sebuah pesan yang bertuliskan Do you want start the process? klik Yes untuk memulai proses.
    11. Dialog Start

    12. Proses integrasi driver akan dimulai dan tunggu hingga proses ini selesai.
    13. Proses Integrasi Hotfix

    14. Jika proses telah selesai, klik Next dan terakhir klik Finish.

    5. Membuat Bootable ISO/CD

    Setelah mengintegrasi hotfix, service pack, driver dan membuat unattended setup langkah terakhir adalah membuat Bootable ISO/CD. Untuk membuat Bootable ISO atau CD Setup Windows ini, ada beberapa hal yang perlu Anda siapkan. Bagi Anda yang ingin langsung membuat CD/DVD, Anda perlu mempersiapkan sebuah CD/DVD Burner dan sebuah CD/DVD Blank (kosong). Sedangkan Anda yang hanya ingin membuat ISO (image) maka Anda hanya perlu menyiapkan ruang kosong di harddisk kurang lebih 1 GB.

    Jika semuanya sudah siap, ikuti langkah-langkah berikut untuk membuat bootable ISO atau CD Setup Windows XP dengan Nlite:

    1. Buka NLite. Pada jendela pertama klik Next.
    2. Di jendela kedua, klik tombol Browse untuk menentukan lokasi folder Setup Windows XP.
    3. Browse Setup Windows XP

    4. Selanjutnya, di jendela Browse For Folder, pilih folder setup Windows XP yang sudah di copy ke harddisk. Jika Anda telah melakukan tutorial sebelumnya, Anda bisa menggunakan setup tersebut. Tunggu hingga proses scanning yang dilakukan NLite selesai. Klik Next untuk melanjutkan.
    5. Pilih Folder Setup Windows XP

    6. Selanjutnya akan muncul jendela Import Preset. Di jendela ini Anda bisa mengimport sesi yang pernah Anda lakukan sebelumnya. Lewati saja langkah ini dengan mengklik Next.
    7. Berikutnya, pilih opsi Bootable ISO dan klik Next.
    8. Pilih Opsi Bootable ISO

    9. Pada jendela selanjutnya, ada 2 (dua) opsi yang bisa Anda pilih yaitu membuat bootable ISO atau langsung membakarnya ke CD/DVD.
      • Bagi Anda yang ingin membuat bootable ISO, pilih Create Image pada opsi Mode. Kemudian klik tombol Make ISO.
        Bootable ISO

        Klik gambar untuk memperbesar

        Selanjutnya, tentukan lokasi tempat menyimpan file ISO pada jendela Select where to save the ISO dan berikan nama yang sesuai dengan keinginan Anda.

        Pilih Lokasi ISO

        Klik gambar untuk memperbesar

        Proses pembuatan ISO akan segera berjalan dan tunggu hingga proses tersebut selesai.

      • Sedangkan Anda yang ingin langsung membakarnya ke CD/DVD atau membuat bootable CD/DVD, masukkan terlebih dahulu CD blank yang sudah Anda siapkan. Kemudian pada jendela Nlite, pilih Direct Burn pada opsi Mode. Pilih drive CD/DVD burner yang akan dipakai pada opsi Device. Tentukan kecepatan burning pada Burn Speed. Teakhir klik tombol Burn untuk memulai proses pembakaran CD/DVD. Tunggu hingga proses selesai.
      • Direct Burn

        Klik gambar untuk memperbesar

    10. Apabila proses pembuatan ISO atau proses pembakaran CD selesai, klik tombol Next. Terakhir klik tombol Finish.

    Kini Anda telah mempunyai CD Setup Windows XP yang sudah terintegrasi dengan driver, hotfix, service pack dan unattended setup. Bagi Anda yang membuat file ISO, Anda bisa membakar file ISO tersebut ke CD/DVD dengan software burner seperti Nero atau Ashampo Burning Studio. Selamat mencoba!

    Sumber: http://www.mypc-spot.com/category/tips-windows-xp

    PERBEDAAN FACEBOOK DENGAN TWITTER

    Posted February 16th, 2011 by
    Categories: Management Information Systems

    Perbedaan Facebook dan Twitter

    Yeni Handayani ,MM STEKPI angkatan V

    Ada perbedaan yang sangat mendasar antara Facebook dan Twitter. Twitter walaupun bentuknya lebih sederhana tapi dari segi ‘System Dynamic’ dia memiliki Kompleksitas yang lebih tinggi. Teknologi Facebook hakekatnya masih ditengah-tengah antara teknologi Web 1.0 dengan Web 2.0 Sedangkan Twitter sudah lebih dari itu malahan mungkin diantara Web 2.0 dengan Web 3.0 Facebook hanya memiliki kemampuan ‘Transfer of Information’ sedangkan Twitter lebih dari itu yakni ‘Transfer of Knowledge atau Knowledge Transfer’. Hakekat dari pada Knowledge Transfer adalah Contextual Learning yang mana pada era Web 2.0 ‘Context is the King’. Sehingga kita para users Twitter dituntut ‘user experience’nya lebih tinggi atau ‘experience rich’ atau ‘kasarnya disuruh lebih belajar’.

     

    Inilah masalahnya di Indonesia saat ini karena para ‘users’ terbuai oleh iklan-iklan ‘devices’ yang canggih-canggih maka dalam konteks penggunaan alat-alat ICT tidak lagi terjadi ‘digital gap atau digital divide’ tapi terjadi gap antara ‘e’ (aspek device) dengan ‘learning’ (aspek human learning) (silahkan mempelajari Link http://mobeeknowledge.ning.com/forum/topics/not-digital-divide-but-el – ‘NOT “DIGITAL DIVIDE”, BUT “E-L DIVIDE” IS OUR MAIN CONCERN’). Kita lihat saja untuk mempelajari Twitter, lebih banyak pedoman atau guides yang dikeluarkan dan tidak semudah Facebook untuk para usersnya. Sebagai tambahan, pada ‘System Dynamic’ dimana users plus Twitter sebagai Social Platform merupakan suatu entitas (kesatuan) ‘Complex Adaptive System’ (CAS). Ciri CAS ialah memiliki kemampuan ‘Emergent Properties’ yakni sifat atau perilaku yang mendadak muncul yang sebelumnya tidak terprediksikan. Dalam hal Twitter dibanding Facebook kemampuan ini akan menonjol, contohnya aplikasi-aplikasi yang ‘generated’ oleh Twitter lebih banyak dan ‘membikin ketagihan’ usernya.

    Sebagai contoh salah satunya adalah Tweetdeck yang saya pakai merupakan tool yang sangat komprehensif mengemban ’amanat’ Web 2.0 sehingga lebih memudahkan dampak ‘viral effect’ . Dibawah ini beberapa contoh dimana Tweeting saya di Re-Tweet dan di@kan oleh pihak lain secara beranting mengakibatkan ‘viral effect’ :
    • RT @toughloveforx @md_santo Road Mapping The Implications In Treating Knowledge as Subject http://tinyurl.com/ya6uswl #revolutionizescience
    • QB Youth Innovative & Creative Ideas. Next on the agenda: Citizen Journalism http://ilnk.me/aa via @md_santo
    • @Md_Santo Readings on HR+Business Process in KM – http://tinyurl.com/nx7r8e #HR + #KM to improve #education and #revolutionizescience

    Untuk menyaingi Twitter, maka Facebook Lite harus memiliki ‘output’ yang disebut ‘Maximum Effective Complexity’nya harus lebih tinggi daripada Twitter dan ‘outcome’ yang harus terbukti lebih ‘rich experience’ bagi ‘usernya’ dalam bentuk kemungkinan-kemungkinan lebih kaya akan “contextually-based interactions – personalised- user-driven social computing – social networking – active collaboration – dynamic participation – interaction online – low cost and open source – spontaneous and self-organizing”

    Menyongsong Era Konvergensi Telekomunikasi dan Informasi

    Posted February 16th, 2011 by
    Categories: Management Information Systems

    Nama : Muhammad Yusuf

    MM STEKPI, angkatan V

    Telekomunikasi kini bergeser menjadi salah satu kebutuhan primer. Peranannya dalam pembangunan peradaban umat manusia pun tidak bisa diabaikan. Kualitas kehidupan suatu bangsa pun salah satu parameternya adalah kemajuan teknologi telekomunikasi bangsa tersebut. Hal ini dikarenakan perkembangan teknologi telekomunikasi yang terus-menerus berkembang sampai saat ini dan dimasa-masa yang akan datang.

    Kebutuhan Indonesia terhadap telekomunikasi semakin lama semakin bertambah. Kebutuhan akan telekomunikasi di masa datang pun akan semakin kompleks. Hal ini merupakan sesuatu hal yang tidak bisa dihindari karena berkaitan dengan paradigma masyarakat yang juga terus berkembang mengenai telekomunikasi itu sendiri. Jika pada masa-masa sebelum ini masyarakat memandang penyampaian informasi utama adalah melalui voice, maka ke depannya terdapat tanda-tanda bahwa informasi dengan bentuk lain akan semakin dominan menjadi substitusi komunikasi voice. Penyampaian informasi lain tersebut dapat berbentuk komunikasi data, teks, gambar, video dan lain-lain. Hal ini tidak lain karena komunikasi voice saja tidak bisa mengakomodir tuntutan masyarakat akan kecepatan, keakuratan, dan kompleksitas.

    Sebagai komponen utama dalam pembangunan, paradigma masyarakat hendaknya menjadi perhatian utama bagi para stakeholder dalam mengelola sektor telekomunikasi nasional. Sektor industri dan pemerintah harus segera tanggap dalam menghasilkan produk (industri) dan regulasi (pemerintah) yangreliable berkaitan dengan kebutuhan itu.

    Sekilas konvergensi IT dan Telekomunikasi

    Konvergensi adalah bersatunya layanan telekomunikasi, teknologi informasi, dan penyiaran, dimana penyelenggaraan jasa telekomunikasi merupakan kegiatan penyediaan atau pelayanan jasa telekomunikasi yang memungkinkan terselenggaranya telekomunikasi melalui media apa saja, termasuk TV, siaran, radio dan multimedia.

    Jaringan yang konvergen memiliki ciri-ciri tertentu yang membedakan dengan jaringan yang sebagian besar ada saat ini, ciri-ciri tersebut adalah :

    1. Jaringan transport dan akses semua berbasis IP atau packet switching network.

    2. Aplikasi/layanan terpisah dengan jaringan transport yaitu terletak di device masing-masing.

    3. Jaringan terbuka sehingga memungkinkan setiap orang untuk terhubung dengan jaringan secara cepat.

    4. Jaringan broadband, yaitu penggunaan medium yang memiliki bandwidth saluran yang besar sehingga mempunyai kualitas yang tinggi.

    5. Jaringan bisa diakses dari mana saja dan kapan saja.

    Menyambut Era Konvergensi

    Belum lama ini Universitas Indonesia (UI) bersama beberapa operator berinisiatif membentuk Forum Konvergensi Telekomunikasi (Konvertel). Operator yang menjadi anggota Konvertel adalah Telkom, Telkomsel, Indosat, IM2, dan XL.Pembentukan Konvertel tak bisa dilepaskan dari kesadaran para pelaku usaha dan akademisi bahwa era konvergensi tak bisa dielakkan segera terjadi di industri telekomunikasi Indonesia.

    “Forum ini untuk memberikan asupan dan kontribusi bagi usaha-usaha penghematan devisa untuk pengelolaan infrastruktur informasi yang lebih efisien dan berdaya guna,” jelas dosen senior Departe-meaTeknik Elektro Universitas Indonesia (Ul) Pumomo Sidi Priam-bodoVii I.ik,ii i.i. belum lama ini. Pengamat telematika dari UI, Muhamad Asvial. menjelaskan saat ini banyak isu krusial yang berkaitan dengan konvergensi belum terselesaikan, seperti masalah keterhubungan (interoperability). “Saya rasa jika ini belum diselesaikan, konvergensi dalam pengertian ubiquitous service networks akan membutuhkan waktu yang lama,” katanya.

    Sementara Sekjen Depkominfo Basuki Yusuf Iskandar mengatakan konvergensi di sisi jaringan memang dibutuhkan oleh industri telekomunikasi untuk menghemat belanja modal dan biaya operasional.Menurut dia, operator di Indonesia selama ini banyak menerapkan karakteristik model investasi berdasarkan ringkat pencapaian pasar karena ingin menguasai seluruh segmen baik dari sisi pelanggan, jaringan, maupun layanan.”Dampaknya bagi pemain baru sangat berat untuk melakukan kesemuanya sehingga perlu melakukan positioning dari strategi layanannya. Karena itu, regulator sedang mengaji kemungkinan penerapan open access perlu diregulasi atau tidak. Terutama masalah model pembangunan backbone dan backhaul di masa depan yang mendukung infrastruktur sharing” katanya.

    Indonesia Siap Masuki Era Komunikasi Berbasis IP 2015

    Indonesia diperkirakan siap menerapkan layanan komunikasi berbasis internet protocol (IP based) pada 2015, seiring tuntasnya pembangunan infratruktur era Next Generation Network (NGN) itu oleh operator-operator telekomunikasi dalam negeri.

    “Kesiapan menerapkan layanan berbasis IP didasarkan pada kesiapan operator membangun NGN dan memasuki tahap akhir penyelesaian program telekomunikasi pedesaaan (Universal Service Obligation/USO) pada 2015,” kata Dirjen Postel Depkominfo, Basuki Yusuf Iskandar, di sela Seminar Konvergensi Telekomunikasi Berbasis IP, di Gedung Depkominfo, Rabu. Menurut Basuki, jika teknologi IP diterapkan, diperkirakan layanan telekomunikasi mampu menjangkau 80 persen populasi penduduk Indonesia, meningkat 100 persen dari jangkauan saat ini yang baru mencapai 40 persen.

    Teknologi IP base membuat operator tidak hanya mampu menyediakan layanan suara dan data dalam satu jaringan tetapi juga membuat ranah telekomunikasi dan penyiaran menyatu (konvergen) akibat aplikasi yang ditawarkan lebih beragam.

    “Sesuai dengan `road map` industri telekomunikasi, pada 2015 program USO akan memasuki tahap desa pintar dimana seluruh desa memperoleh akses teleponi dasar dan internet,” katanya. Dengan platform IP membuat operator lebih efisien dari sisi jaringan karena didukung infrastruktur bersama (sharing infrastructure) antar operator yang pada akhirnya menurunkan tarif komunikasi khususnya layanan internet.

    Meski begitu, Basuki berpendapat akan ada dampak negatif terkait “sharing infrastructure” karena akan dikuasai oleh pemain besar.

    Internet Murah

    President Nokia Siemens Network Indonesia, Arjun Trivedi mengatakan penerapan NGN pada jaringan operator akan membuat teknologi internet semakin dominan.Untuk mencapai hal itu, diutarakannya, Nokia Siemens Network menawarkan pada industri telekomunikasi beberapa teknologi yang mendukung IP base seperti i-HSPA, Long Term Evolution (LTE), dan teknologi Wimax yang diyakini mampu meningkatkan kinerja operator sekaligus berbiaya rendah.

    “Peningkatan kinerja dan efisiensi biaya berdampak pada tarif layanan murah bagi pelanggan seluler,” katanya.

    Senada dengan itu, Direktur Consumer Telkom, I Nyoman G Wiryanata mengakui, masa depan telekomunikasi di Indonesia terletak pada konvergensi berkat teknologi berbasis IP, terlihat dari masih rendahnya pengguna internet di Indonesia yang baru mencapai 20 juta jiwa, atau menduduki posisi ke 14 di dunia untuk penggunaan internet. Apalagi untuk layanan broadband yang terbilang kecil yakni hanya sekitar 386.000 pelanggan.

    Direktur Marketing Indosat Guntur Siboro menambahkan, konvergensi nantinya akan mengubah model bisnis operator dan memungkinkan menambah pendapatan di luar bisnis inti.

    “Operator akan tetap sebagai penyedia jaringan. Tetapi kita tidak menafikan kalau ada tambahan dari penerapan konvergensi nantinya,” kata Guntur.

    Sedangkan Direktur Jaringan PT Excelcomindo Pratama (XL) Dian Sisworini dan Wakil Direktur Bakrie Telecom Danny Buldansyah mengatakan siap mengimplementasikan IP base sesuai harapan pemerintah.

    “XL telah mulai melakukan konvergensi pada Agustus 2006 lalu dengan menerapkan Fixed Mobile Convergence. Kita lanjutkan terus dengan inovasi lainnya,” katanya.

    “Kendala yang dihadapi Bakrie Telecom adalah keterbatasan kanal yang hanya berjumlah 3 kanal. Padahal idealnya 78 kanal untuk bisa menyediakan akses internet berkualitas,” ujar Danny.

    Konvergensi IT-Telekomunikasi : Sekadar Update Status Facebook di Ponsel?

    Ada pemandangan menarik di sudut taman kampus terkenal di kawasan Depok Jawa Barat. Beberapa mahasiswa terlihat asyik berselancar internet dengan laptop dan netbook mereka. Uniknya, pada saat di kampus tersedia fasilitas hotspot mereka malah menggunakan modem internet dari operator seluler. ”Habis, hotspotnya sering naik turun, saya nggak bisa cari bahan untuk nulis paper kuliah,” kata Yasser, salah satu mahasiswa tersebut, sambil menunjukkan modem eksternal yang ia gunakan. Memang saat ini boleh dibilang pemanfaatan internet lewat jaringan data operator seluler seperti yang digunakan para mahasiswa itu kian marak. Hal ini disebabkan selain sifatnya yang mobile – dapat dibawa kemana-mana- juga karena tarif akses data yang ditawarkan operator semakin terjangkau kantong masyarakat terutama mahasiswa. Tawaran yang diberikan untuk skema pembayaran pun semakin menarik, mulai dari tarif bulanan hingga skema pembayaran per kb (kilobytes) pemakaian. Alasan lain yang tidak kalah penting adalah operator seluler semakin berusaha keras memberikan yang terbaik kepada konsumen dengan kemudahan pada perangkat yang digunakan untuk akses internet. Mulai dari modem eksternal yang bentuknya semakin hari semakin simpel hingga menggunakan ponsel sebagai modem. Kalau operator memberikan harga yang murah dan terjangkau tetapi tidak menyediakan perangkat yang mudah digunakan, konsumen tidak akan tertarik karena alasan gagap teknologi. Inovasi inilah yang kemudian memicu perkembangan koneksi mobile data operator semakin pesat. Masyarakat pun dapat memilih koneksi mobile data berbasis GSM atau CDMA, karena semuanya menawarkan kemudahan dan kecepatan akses internet yang tinggi.

    Dari kondisi itu, sadar atau tidak, masyarakat kini telah memasuki area konvergensi atau menyatunya teknologi informasi (information technology/IT) dengan telekomunikasi. Sesuatu yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya. Teknologi telekomunikasi – dalam hal ini bisa diwakili oleh ponsel-, ketika muncul pada tahun 1990-an hanya dapat digunakan sebagai telepon pengganti telepon rumah. Dalam bahasa lain, telepon rumah yang dapat dibawa kemana-mana. Bentuk ponsel pun terbilang besar seakan menempelkan sebuah batu bata ke telinga saat sedang menelepon atau menerima telepon. Tidak perlu membutuhkan waktu lama, fungsi ponsel pun kemudian bergeser, tidak hanya untuk menelepon tetapi mulai dapat mengirim pesan singkat SMS, pemutar musik MP3, MP4, radio, kamera, hingga memutar siaran TV. Bentuknya pun berubah menjadi makin mungil, ringan, dan tipis.

    Itu baru konvergensi di sisi fitur perangkat. Konvergensi lain yang juga terjadi adalah menyatunya teknologi telekomunikasi seluler dengan teknologi informasi. Pada awalnya, akses internet hanya dapat diakses lewat dial-up di jaringan telepon kabel. Selanjutnya, ketika teknologi seluler berevolusi dari GPRS hingga 3G dan HSDPA atau CDMA EV-DO maka teknologi seluler menjadi alternatif baru mengakses internet. Kecepatan akses data internet di operator seluler ini bergerak makin cepat, sehingga akses internet lewat telepon kabel pun lantas punya saingan berarti. Terlebih dengan banyaknya operator seluler yang bermunculan di Indonesia, membuat konvergensi menghadirkan bentuk ideal bagi masyarakat. Masyarakat semakin leluasa memilih layanan data dengan harga terjangkau dan skema tarif yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

    Dampak Konvergensi TI dan Telekomunikasi

    Oleh : Team Analis PT.I4TE SOLUSI INFOTEK

    Banyak perangkat teknologi digital telah berhasil menyingkirkan perangkat lama yang berbasis teknologi analog dari pasaran. Kualitas kemampuan teknologi digital memang jauh lebih unggul. Pemutar musik digital memiliki suara yang lebih jernih. Video digital memiliki kualitas gambar yang jauh lebih baik dibandingkan video analog. Namun, dampak terbesar dari digitalisasi adalah terbukanya kemungkinan untuk mengintegrasikan produk-produk yang semula terpisah-pisah menjadi satu, atau yang dikenal dengan konvergensi teknologi.

    Konvergensi teknologi bisa dengan mudah kita dapati pada ponsel-ponsel canggih yang beredar di pasaran saat ini. Dengan ponsel tersebut kita bisa menelpon, mendengarkan musik, memotret, melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya hanya bisa dilakukan di komputer. Sepuluh tahun yang lalu kita membutuhkan peralatan yang berbeda-beda untuk melakukan itu semua. Bahkan melalui layanan 3G dan dengan ponsel yang sesuai, kita bisa berkomunikasi sambil bertatap wajah dengan lawan bicara kita, sesuatu yang sebelumnya hanya bisa disaksikan di filem Dick Tracy atau filem-filem fiksi ilmiah yang mengisahkan masa depan. Digitalisasi memungkinkan data yang dihasilkan oleh suatu perangkat bisa diproses oleh perangkat lain. Misalnya, gambar yang dihasilkan kamera digital bisa diproses di komputer dengan software Photoshop. Hasil pengolahan foto ini kemudian dirangkai dengan tulisan-tulisan maupun gambar-gambar lain dengan menggunakan software desktop publishing untuk dijadikan majalah. Kemampuan memanfaatkan data yang sama dengan perangkat yang berbeda-beda, membuka jalan bagi konvergensi teknologi-teknologi digital.

    Perkembangan teknologi yang sangat cepat terutama diperlihatkan oleh konvergensi teknologi informasi (TI) dengan telekomunikasi. Kini orang bisa mengakses Internet dari mana-mana, termasuk dari kafe maupun taman, secara nirkabel. Ponsel yang dilengkapi GPS, yang memanfaatkan sinyal satelit, bisa membantu pengendara mobil menjelajahi daerah yang tidak dikenalinya. Pemilihan pemenang kontes-kontes menyanyi - seperti Indonesian Idol atau KDI - oleh pemirsa TV, dimungkinkan karena adanya jaringan telekomunikasi seluler untuk menyalurkan SMS dengan komputer yang menjalankan aplikasi SMS gateway. Dan, masih banyak lagi bentuk-bentuk konvergensi TI dan telekomunikasi yang telah dimanfaatkan di masyarakat.

    Konvergensi TI dan telekomunikasi mula-mula terjadi di level terminal (perangkat penerima) dan di level layanan jaringan secara terpisah. Di level terminal, perangkat ponsel secara bertahap menggabungkan perangkat-perangkat lain yang awalnya tidak berhubungan dengan telekomunikasi - pemutar musik, game console, kamera, sampai komputer saku atau personal data assistant (PDA) - melebur jadi satu. Jika perangkat telepon sambungan tetap hanya berfungsi sebatas untuk komunikasi suara, perangkat ponsel berkembang menjadi perangkat komunikasi, hiburan, sampai bisnis. Anak-anak muda bisa menghabiskan waktunya dengan mendengarkan musik atau bermain game di ponsel. Pebisnis yang semula mencemaskan waktunya bakal habis ditelan kemacetan lalu-lintas Jakarta, bisa memanfaatkan waktunya untuk mengerjakan sebagian pekerjaan kantor di mobil dengan PDA yang terintegrasi dengan ponsel. Di level jaringan, konvergensi teknologi menjadikan jaringan telekomunikasi - baik sambungan tetap maupun nirkabel - tidak hanya untuk mengalirkan suara, tetapi juga berbagai jenis data, termasuk untuk akses Internet. Mula-mula akses Internet hanya melalui komputer meja dari rumah atau kantor. Namun, layanan Internet melalui jaringan nirkabel memungkinkan orang mengakses Internet dari mana saja, dengan menggunakan komputer notebook ataupun PDA yang lebih mungil, tanpa tergantung lagi pada rentangan kabel. Saluran telekomunikasi satelit malah sudah lama memfasilitasi konvergensi layanan, mulai dari suara, data sampai siaran TV.

    Konvergensi terminal dan konvergensi jaringan secara sendiri-sendiri tidak berlangsung lama, ke dua level ini pun kemudian menjadi konvergen juga. Pengguna menjadi lebih dimanjakan lagi. Akses Internet bisa dilakukan langsung dari ponsel yang menjalankan browser. Bahkan tanpa Internet pun, melalui saluran telekomunikasi seluler orang bisa mengakses berbagai jenis informasi, termasuk melakukan transaksi perbankan. Mula-mula orang bisa chatting atau menelpon melalui komputer ke pengguna komputer lain, kini melalui komputer orang juga bisa menghubungi orang yang menggunakan ponsel. Di masa lalu, ketika di tengah perjalanan, PDA hanya berfungsi sebagai komputer stand alone, yang tidak terhubung ke mana-mana karena tidak bisa menjangkau jaringan komputer kantor, kini PDA yang menyatu dengan ponsel bisa secara terus-menerus terhubung dengan jaringan komputer kantor. Tanpa menunggu sampai kantor, seorang karyawan bisa mengakses basis data kantor. Akibatnya, jika dimanfaatkan secara cerdik, ponsel bisa menghemat kegiatan operasional perusahaan atau membuka peluang bisnis baru, bukan sekedar asesori pengangkat citra canggih dan keren saja.

    Sebagai media hiburan banyak kemungkinan bisa diwujudkan. Melalui jaringan seluler, gambar TV yang jernih bisa disebarkan. Selera musik kita bisa dipamerkan ke orang-orang yang menelpon kita berkat layanan ring back tone. Pengguna seluler juga bisa memperluas jangkauan dan mengintensifkan kontak sosialnya video call. Anak-anak muda bisa bermain game melawan orang lain yang berjauhan, atau bahkan yang tidak pernah ditemuinya sekalipun.

    Konvergensi TI dan telekomunikasi telah dan akan memberikan peluang-peluang baru dalam bisnis. Bahkan bagi Indonesia, perkawinan TI dan telekomunikasi seluler memiliki akibat bisnis yang lebih besar dibandingkan dengan Internet. Ketika paruh kedua tahun 90-an bisnis di Internet (dotcom) mengalami perkembangan luar biasa, sebagian kalangan bisnis di Indonesia juga memiliki harapan-harapan yang sama dengan yang ada di negara-negara maju. Maka, mulai dari tiruan Amazon sampai tiruan Yahoo bermunculan, pendirinya berharap bisa meraih sukses yang sama. Namun, sayangnya di Indonesia Internet ternyata merupakan media transaksi yang rawan kecurangan. Penggunaan kartu kredit orang lain, sampai pemalsuan identitas kerap terjadi. Contoh, penipuan yang dilakukan orang di tanah air, misalnya ketika BCA meluncurkan situs Internet banking, dalam waktu singkat bermunculan situs-situs palsu dengan nama mirip, sehingga sebagian nasabah BCA ada yang terjebak mengakses situs tersebut dan menyerahkan password atau kata sandinya, yang kemudian digunakan oleh pemilik situs palsu tersebut untuk menguras rekening nasabah. Untuk mengatasi pencurian kata sandi ini, kemudian BCA memberi nasabahnya alat keyBCA yang bisa menghasilkan kata sandi yang berubah-ubah setiap kali login, sehingga bisa mempersulit pemalsuan. Namun, hal ini tentu saja jadi agak mengurangi kenyamanan penggunaan Internet banking.

    Mobile banking atau transaksi perbankan melalui jaringan seluler tidak terganggu oleh masalah di atas. Penggunaan jaringan seluler untuk kepentingan transaksi komersial (mobile commerce) lebih aman, karena identitas pengguna lebih jelas, satu nomor ponsel hanya digunakan oleh satu orang. Sedangkan melalui Internet orang bisa mudah berganti-ganti komputer, sehingga identitasnya lebih sulit dilacak. Karena itulah mobile banking lebih sukses di tanah air. selain karena pemalsuan, kegagalan Internet commerce di Indonesia antara lain dikarenakan biaya (fee) transaksi dengan kartu kredit yang relatif tinggi yang harus ditanggung penjual, sementara barang-barang yang mereka jual kebanyakan berharga rendah, seperti buku atau VCD. Hal ini membuat pembayaran dengan kartu kredit jadi tidak menarik. Akhirnya toko-toko buku online lebih banyak melakukan pembayaran tunai saat penyerahan barang atau cash on delivery (COD). Namun, secara bisnis COD hanya layak dilakukan jika pelanggan berada dalam kota yang sama dengan lokasi toko online.

    Mobile commerce membuka peluang bisnis yang lebih mudah bagi transaksi-transaksi kecil, karena pembayaran bisa dilakukan dengan pulsa. Pulsa ponsel telah menjadi mata uang dalam mobile commerce. Lihat saja bisnis yang telah dimanfaatkan dengan cara ini: pemesanan ring back tone, mengunduh ring tone ataugame, berlangganan SMS dari artis atau SMS yang berisi pesan-pesan keagamaan, bahkan sampai memberikan sedekah atau sumbangan.

    Bisnis ring back tone bahkan bisa menjadi penyejuk industri musik yang sudah lama didera pembajakan. Sejumlah musisi, seperti Iwan Fals, Samsons, Letto sampai almarhum Chrisye, sempat mendistribusikan lagu-lagunya melalui jaringan telekomunikasi seluler. Lagu Letto yang berjudul Ruang Rindu mencapai angka 3,2 juta untuk penjualan ring back tone. Padahal jika dijual dalam bentuk kaset, untuk bisa laku 1 juta saja sudah sangat luar biasa. Penjualan ring back tone ini lebih bisa menghindari pembajakan. Bahkan penggemar musik juga tidak segan bertransaksi karena biayanya murah karena tidak ada media fisik - seperti keping CD atau kaset - yang digunakan, dan juga caranya mudah karena bisa dilakukan dari ponsel mereka di manapun mereka berada. Secara psikologis orang juga bisa mudah melakukannya karena mereka membayarnya dengan pulsa dalam jumlah kecil, sehingga mereka tidak merasa “mengeluarkan uang”.

    Perkembangan konvergensi teknologi juga terlihat pada bisnis game. Mula-mula game dijalankan secara lokal, baik di komputer maupun di ponsel. Popularitas Internet mendorong orang untuk mengembangkan online game sehingga orang bisa bermain game melawan banyak orang yang berada di tempat berbeda-beda dan berjauhan. Popularitas online game juga dikarenakan orang lebih suka bermain melawan orang lain dibandingkan dengan melawan komputer. Online game ini tumbuh menjadi bisnis besar, karena untuk bisa bermain orang harus mendaftar dulu, yang kemudian bisa membayar atau gratis. Pengguna online game juga akan selalu tergantung pada server perusahaan penyedia layanan, sehingga bisnis ini tidak akan digerogoti pembajakan. Perkembangan berikutnya orang bisa bermain game yang sama melalui perangkat berbeda-beda. Sebagian orang bermain dari komputer, sebagian lainnya bermain dari ponsel. Game karya orang Indonesia, seperti Kurusetra misalnya, bisa diakses baik melalui Internet dengan komputer, maupun dengan ponsel melalui jaringan seluler.

    Demikianlah, konvergensi TI dan telekomunikasi telah dan masih akan terus melahirkan produk-produk baru dengan kemampuan-kemampuan baru, serta bisnis-bisnis baru pula

    demikian terima kasih,,

    MANAJEMEN LAYANAN SISTEM INFORMASI PENERIMAAN PAJAK

    Posted February 15th, 2011 by
    Categories: Management Information Systems

    Indri Hapsari-MM STEKPI- Angkatan V

    Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan perbankan kepada masyarakat serta dalam upaya memberikan pelayanan system transaksi pembayaran dan pemindahbukuan Hasil Penerimaan Negara melalui bank persepsi secara elektronik dengan cepat,aman,dan efisien, maka perlu dilakukan penambahan sarana pelayanan berupa Modul Penerimaan Negara secara Elektronik.
    Sehubungan dengan hal tersebut di atas,sebagai bank persepsi wajib menyusun kebijakan dan prosedur tertulis pelaksanaan operasional Modul Penerimaan Negara secara elektronik yang mendukung system control internal yang baik,termasuk prosedur pengamanan penggunaan Modul Penerimaan Negara secara online. Standard Operating Procedures tersebut akan dipergunakan oleh unit operasional, sehingga dapat berjalan dengan baik dan tidak menyimpang dari ketentuan yang berlaku.

    · Tujuan Sistem Pembayaran Penerimaan Negara Melalui Modul Penerimaan Negara

    1. Tujuan Umum

    Mendukung Penerimaan Negara dalam sector pembayaran SSPBB,BPHTB ,SSP,SSBP,SSPB dan SSPCP di wilayah Jakarta dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat wajib pajak yang cepat,aman,efektif dan efisien.
    2.    Tujuan Khusus

    a. Memperlancar pembayaran SSPBB,BPHTB ,SSP,SSBP,SSPB dan SSPCP online.

    b. Mengurangi risiko operasional dalam pelaksanaan settlement baik bagi bank maupun wajib pajak..

    · Definisi

    1. Modul Penerimaan Negara adalah modul penerimaan yang memuat serangkaian prosedur mulai dari penerimaan, penyetoran, pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan yang berhubungan dengan penerimaan Negara dan merupakan bagian dari system Perbendaharaan dan Anggaran Negara.

    2. Surat Setoran Pajak (SSP) adalah surat setoran atas pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang.

    3. Surat Setoran Pajak Bumi dan Bangunan (SSPBB) adalah surat setoran atas pembayaran atau penyetoran PBB.

    4. Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (SSB) adalah surat setoran atas pembayaran atau penyetoran BPHTB.

    5. Surat Setoran Pabean,Cukai,dan Pajak dalam rangka impor (SSPCP) adalah surat setoran atas penerimaan Negara dalam impor berupa bea masuk,bea masuk berasal dari SPM Hibah, denda administrasi, penerimaan pabean lainnya, cukai, penerimaan cukai lainnya, jasa pekerjaan,bunga, dan PPh pasal 22 impor, PPN Impor,serta PPnBM Impor.

    6. Surat Setoran Cukai atas Barang Kena Cukai dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Hasil Tembakau Buatan Dalam Negeri (SSCP) adalah surat setoran atas penerimaan Negara atas Barang Kena Cukai Buatan Dalam Negeri berupa cukai hasil tembakau, cukai etil alcohol, cukai minuman mengandung etil alcohol, denda administrasi penerimaan cukai lainnya, jasa pekerjaan, dan PPN hasil Tembakau Buatan Dalam Negeri.

    7. Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP) adalah surat setoran atas penerimaan Negara bukan pajak (PNBP) selain SSP,SSSPBB,SSB,SSCP.

    8. Surat Setoran Pengembalian Belanja (SSPB) adalah surat setoran atas penerimaan pengembalian belanja tahun anggaran berjalan.

    9. Laporan data transaksi adalah laporan SSPBB yang memuat wilayah,kode KPP,Jumlah,STTS, dan periode pembayaran.

    10. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994, dikenakan kewajiban untuk membayar PBB;

    11. NPWP adalah Nomor Pokok Wajib Pajak, yaitu Nomor Identifikasi Wajib Pajak bersifat unik, standar, dan permanen;

    12. NOP adalah Nomor Objek Pajak, yaitu Nomor Identifikasi Objek Pajak uang bersifat unik, standar, dan permanen;

    13. Kantor Cabang Persepsi  merupakan salah satu unit kerja yang mengelola langsung dan berhubungan dengan kantor Direktorat Jenderal Pajak serta sebagai Peserta Pelaksana Modul Penerimaan Negara (MPN) dengan membercode sendiri.

    · Prosedur Pembayaran SSPBB(P2PBB/P3PBB),BPHTB ,SSP,SSBP,SSPB dan SSPCP di Kantor KPP Pratama/Cabang Pembantu/Cabang Persepsi/Kantor Yang ditunjuk

    1. Nasabah/WP mendatangi teller KPP Pratama/ Cabang Pembantu/Cabang Persepsi/Kantor yang ditunjuk menyerahkan surat setoran SSPBB(P2PBB/P3PBB),BPHTB ,SSP,SSBP,SSPB dan SSPCP yang harus dibayar,Rekapitulasi Pembayaran Pajak (jika ada) dan Uang Tunai/Cek/BG.

    2. Teller menerima surat setoran SSPBB(P2PBB/P3PBB),BPHTB ,SSP,SSBP,SSPB dan SSPCP Rekapitulasi Pembayaran Pajak (jika ada) dan Uang Tunai/Cek/BG dari nasabah/WP, kemudian melakukan verifikasi
    keabsahan surat setoran SSPBB(P2PBB/P3PBB),BPHTB ,SSP,SSBP,SSPB dan SSPCP tersebut. Jika nasabah/WP setuju,lanjutkan ke proses pembayaran.

    3. Teller memastikan jumlah dana yang tertera pada surat setoran SSPBB(P2PBB/P3PBB),BPHTB ,SSP,SSBP,SSPB dan SSPCP dan rekapitulasi pembayaran SSP harus sama dengan nominal yang tertera pada cek/BG/Uang tunai yang diberikan.

    4. Teller login ke menu pembayaran E-Tax Payment(MPN).Kemudian pilih jenis pembayaran pajak yang akan dibayar oleh nasabah/WP.

    · Perbaikan Data
    Dalam hal terjadi kesalahan perekaman elemen-elemen data, dapat dilakukan perbaikan data dengan melalui prosedur Reversal selama belum dilakukan pelaporan ke KPPN.
    Apabilak kesalahan diketahui setelah dilakukan rekonsiliasi, perbaikan terhadap elemen-elemen data dapat dilakukan dengan melakukan :

    1.    Konfirmasi ke cabang tempat transaksi untuk memastikan benar terjadi kekeliruan.
    2.    Minta Cabang melakukan perbaikan data yang salah dengan prosedur reversal.
    3.    Rekon Ulang.

    · Pencegahan
    1.    Pencegahan kerusakan system computer

    Dilakukan maintenance secar berkala, melakukan back-up dan restore data dan program oleh Departement Operation Grup Teknologi Informasi, dan disediakan ruangan yang kondusip oleh Departement Pemeliharaan dan Pelayanan Grup Teknologi Informasi.
    2.    Pencegahan Sabotase

    Pemberian user id dan password secara bertingkat sesuai dengan kewenanganya, ruangan dilengkapi dengan access door (restricted are) dan pembagian tugas yang jelas (maker, cheker, approval).

    3.    Pencegahan sehubungan dengan gangguan listrik

    Menyediakan UPS (Uninterupt Power Supply) dan pembangkit listrik cadangan (Genset) serta pemeliharaannya oleh Departemant Pemeliharaan dan Pelayananan Grup Quality Assurance.
    4.    Pencegahan terhadap kebakaran

    Menyadiakan alat pemadam kebakaran dan pengecekan secara berkala konfigurasi kabel-kabel listrik oleh Departement Pemeliharaan dan Pelayananan Grup Quality Assurance.
    5.    Pencegahan terhadap banjir

    Peletakan posisi komputer atau printer pada tempat yang tidak memungkinkan dijangkau oleh banjir.

    5. Pencegahan Terhadap Huru-HaraMeningkatkan keamanan dan kewaspadaan.

    · Gangguan pada Sistem Pembayaran SSPBB (PP2PBB,P3PBB), BPHTB, SSP, SSBP, SSPB  dan SSPCP

    Gangguan yang terjadi pada lokasi terminal yang ada pada Pembayaran SSPBB (PP2PBB,P3PBB), BPHTB, SSP,SSBP, SSPB dan SSPCP, jaringan komunikasi, atau system E-Tax Payment yang menyebabkan tidak dapat dilaksanakan pengiriman transaksi dpat dikategorikan sebagai berikut

    1. Gangguan pada Sistem E-Tax Payment.

    Dalam hal terjadi gangguan pada Server Utama dan diahlikan pada aplikasi yang berbeda pada Disasrter Recovery Center (DRC) E-Tax Payment.

    2. Gangguan pada Core

    Bila terjadi gangguan pada Core Utama  ,maka akan dialihkan ke DRC, sesuai ketentuan BCP dan DRP.

    Dengan tetap memberikan pelayanan dalam hal ketepatan atau kecepatan proses pembayaran penerimaan Negara melalui Modul Penerimaan Negara yang dilakukan secara Real Time Ontime dan memberikan informasi kepada nasabah mengenai penyelesaian transaksi yang mengacu pada ketentuan Kanwil Ditjen Perbendaharaan Departemen Keuangan RI.

    Sumber :

    Group Perencanaan Strategis PT. Bank DKI

    SISTEM INFORMASI MANAGEMEN ASET (SIMA)

    Posted February 13th, 2011 by
    Categories: Management Information Systems

    Riffa Juffiasari- MM STEKPI- Angkatan V

    Semakin tingginya aktivitas yang berlangsung pada suatu perusahaan akan menuntut kinerja yang semakin tinggi dari perangkat pendukungnya, tuntutan tersebut diantaranya melibatkan kecepatan proses pengolahan data serta bentuk output informasi yang efektif serta akurat bagi unit – unit di dalamnya. Peranan teknologi informasi untuk mendukung aktivitas organisasi akan semakin dibutuhkan peranannya, dimana data dapat diolah secara cepat untuk kemudian disajikan kedalam bentuk informasi yang akurat dan aktual.

    Aset merupakan salah satu pendukung organisasi dalam menjalankan fungsi-fungsi yang terdapat di dalamnya. Keberadaan aset dapat menjadi pendukung aktivitas internal maupun dimanfaatkan oleh pihak lainnya. Parameter penting yang harus diamati dalam pengelolaan aset antara lain meliputi nilai, kondisi fisik, status legal, komponen-komponen biaya yang ditimbulkan oleh aset, output atas pemanfaatan aset serta komponen data lainnya yang relevan.

    Semakin berkembangnya ukuran organisasi akan mendorong untuk memperbesar skala aset yang dimilikinya, implikasinya adalah kompleksitas pengelolaan yang semakin tinggi. Karakteristik data aset yang berjumlah besar, item yang beragam serta pola penanganan yang bervariasi akan menyebabkan pengelolaan aset secara manual sulit untuk dilakukan. Agar aset dapat menunjang kinerja organisasi, maka dibutuhkan suatu sistem informasi yang handal untuk dapat mendukung level teknis/operasi, level supervisi maupun level eksekutif mulai dari proses pengolahan data hingga menyajikan informasi mengenai aset secara aktual, cepat dan akurat.

    Level eksekutif akan membutuhkan informasi mengenai kinerja berbagai unit/ satuan kerja dalam oraganisasi, termasuk didalamnya mengenai kinerja aset yang dikelolanya. Kecepatan dalam pengolahan data hingga penyajian informasi akan mempengaruhi kinerja lembaga secara keseluruhan.

    Adapun level manajemen tingkat menengah – supervisi akan memerlukan data dan informasi untuk melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap pelaksanaan pengelolaan aset oleh level teknis yang berada di bawahnya. Level teknis – operasional akan membutuhkan data dan informasi terkait dengan tasking(tugas) terkait perlakuan terhadap aset yang disajikan secara aktual oleh sistem.

    Namun dalam pengelolaannya, terdapat permasalahan yang dihadapi antara lain:

    * Jumlah aset besar (banyak),

    * Jenis aset bervariasi,

    * Letak aset tersebar (dapat pula secara geografis)

    * Adanya dokumen-dokumen pendukung aset,

    * Kondisi legal masing-masing yang beragam,

    * Perbedaan penanganan masing-masing aset (existing),

    * Adanya idle aset serta pemanfaatan yang tidak optimum.

    * Pengelolaan data masih manual,

    * Kebutuhan informasi yang tinggi (on-demand & regular) mengenai kondisi aset.

    Melalui sistem informasi yang diharapkan dapat dilakukan pengelolaan objek spesifik yang ditangani. Namun lebih jauh fungsi aset dari sudut pandang keuangan harus dapat terakomodasi dengan baik pula, sehingga sistem yang digunakan dalam mengelola aset harus dapat diintegrasikan dengan sistem keuangan yang diterapkan dalam organisasi. Faktor lainnya yang memiliki keterkaitan adalah hubungan antara pemanfaatan aset dengan pembebanan biaya pada unit organisasi dari kelompok terbesar hingga unit terkecil, dalam hal ini personil. Sehingga penting pula adanya keterkaitan antara pengelolaan aset dengan pengelolaan sumber daya lainnya. Melalui pendekatan ini dapat terukur kinerja unit/satuan kerja dalam memanfaatkan aset serta hubungannya dengan pencapaian yang diperoleh unit/satuan tersebut.

    1. KONSEP PENGEMBANGAN SIMA

    SIMA merupakan sistem pendukung pengelolaan aset yang menerapkan arsitektur web-based application. Dalam pengelolaan aset dapat diterapkan pendekatan data tersentralisasi maupun terdistribusi yang mendukung hirarki percabangan kantor (pusat - cabang). Pengelolaan aset melalui SIMA berjalan secara mandiri namun kemudian dapat dikonsolidasikan dengan sistem akuntansi - keuangan. Untuk memenuhi kebutuhan identifikasi penempatan aset yang tersebar pada satu tempat atau lebih menuntut pendekatan terpadu melalui sistem identifikasi yang efektif.

    Dalam pengelolaan aset, terdapat siklus aset (assets live cycle) dan siklus pengelolaan aset. Siklus aset adalah sejak perencanaan, pengadaan, penempatan, pemeliharaan, pengamanan, pengadaan dan seterusnya hingga aset dihapusbukukan. Agar dapat diperoleh kinerja aset yang tinggi harus dilakukan manajemen pengelolaan yang baik, manajemen pengelolaan meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi yang keseluruhannya bermuara pada unsur monitoring. Kombinasi dari kedua komponen ini diterapkan dalam SIMA.

    Aset dapat dilekatkan pada unit satuan sesuai dengan hirarki yang digunakan misalnya kantor, wilayah, divisi dan seterusnya, dapat pula jenis objek bangunan yang digunakan. Aset yang berada di lokasi objek

    Unit satuan (misalnya kantor) merupakan aset ikutan akan mengacu pada aset induknya, artinya data bangunan didaftarkan seluruh barang aset di dalamnya baik aset bergerak maupun tidak. Biaya – biaya terkait seperti biaya operasional maupun penyusutan dikaitkan secara rinci terhadap bangunan (ruangan dan lantai tercatat).

    Siklus pengelolaan aset melalui sistem dimulai dari tahap inventarisasi yaitu mencatatkan aset ke dalam sistem, selanjutnya adalah memasukkan status aset eksisting, memantau kondisi aset secara periodik serta meng-update data aset. Pengelolaan data aset tersebut akan disajikan dalam format laporan. Pengelolaan terhadap item aset akan berakhir apabila dilakukan write-off. Write off dilakukan apabila nilai buku aset telah mencapai tahap akhir (sesuai umurnya), terjadi kerusakan permanen yang mengakibatkan penyusutan secara nilai maupun fungsi dari aset, atau terjadinya pengalihan hak (dijual).

    Melalui SIMA juga dapat dikaitkan pembebanan aset terhadap individu yang menggunakannya. Melalui hubungan ini dapat dilihat kinerja personil maupun unit terhadap penggunaan aset.

    Konsep yang diterapkan pada aplikasi SIMA, setiap aset merupakan milik entitas/ lembaga yang berada pada suatu lokasi - unit tertentu. Hal ini untuk memudahkan pengelompokan tanggung jawab dan hak terhadap aset tersebut, baik tanggung jawab berupa pemeliharaan atau jatuh tempo suatu kewajiban.

    Setiap aset apapun jenisnya dianggap memiliki data atribut yang menunjukan identitas maupun dokumen legal menunjukan kepemilikan atau hak dan kewajiban terhadap aset tersebut. Dalam aplikasi ini setiap aset dianggap memiliki nilai, baik nilai perolehan maupun nilai pasar beserta manajemen penyusutannya.

    Aset pada aplikasi ini dikategorikan menjadi lima jenis aset yang secara konsep terbagi dari dua kelompok: “Real peroperty” yang tediri dari aset tanah dan aset bangunan, kemudian “Personal Property” yang terdiri dari Mesin/Peralatan, Kendaraan, Fixture/Furniture.

    1. MANFAAT SISTEM

    Sistem Informasi Manajemen Aset ditujukan untuk mengakomodasi kebutuhan berbagai level dalam manajemen melalui fitur-fitur yang dimilikinya, secara cepat, akurat serta aktual dimana pengoperasiannya mudah. Masing – masing level manajemen yang didukung oleh sistem ini meliputi:

    1. Level Teknis

    Pelaksana fungsi-fungsi teknis seperti dalam operasional tugas-tugas rutin akan membutuhkan sistem ini dalam rangka pengadaan aset, pemeliharaan, opname, mutasi hingga disposal yang harus diinventarisasikan kedalam sistem. Sistem akan menyediakan informasi melalui alert dan reminder yang terkait dengan waktu atau parameter lainnya (misalnya area) yang terkait dengan perlakuan terhadap aset.

    2. Level Supervisi

    Pelaksana fungsi-fungsi supervisi dalam pelaksanaan tugasnya dapat memperoleh dukungan agar perencanaan aktivitas terhadap aset dapat dipantau secara efektif, dimana level teknis yang melaksanakan tugas dapat dimonitor dari segi kualitatif maupun kuantitatif dalam ruang lingkup yang ditetapkan. Melalui mekanisme monitoring ini diharapkan dapat diperoleh kinerja aset secara optimum. Fungsi manajemen lainnya yang didukung oleh sistem pada level ini adalah unsur efektivitas serta efisiensi yang dicapai dalam pemanfaatan aset, sehingga terhadap masing-masing aset dapat diberikan apresiasi maupun saran pemanfaatan agar dapat dimanfaatkan secara lebih optimum.

    3. Level Eksekutif

    Level eksekutif akan dapat melakukan penilaian mengenai kinerja atas aset yang dimilikinya berdasarkan informasi yang diperoleh. Berdasarkan informasi tersebut, level eksekutif dapat melakukan evaluasi serta perencanaan atas posisi aset bagi organisasi mulai dari pengadaan, pemanfaatan hingga disposal (dijual). Informasi aset ini dapat pula dimanfaatkan dalam keputusan manajemen lainnya yang memiliki hubungan seperti bagian operasi, sumber daya manusia dan sebagainya.

    Dari ketiga level umum tersebut di atas, sistem informasi pendukung pengelolaan aset diharapkan dapat memberikan manfaat:

    · Mewujudkan tertib administratif melalui pencatatan data aset dengan semua atributnya ke dalam sistem (menambah – merubah – menghapus) data aset. Seluruh data/atribut aset tercatat dengan baik dan manageable. Penanganannya simultan dalam satu periode, up-to-date (selalu terbarukan), serta proses pengelolaan data secara cepat dan mudah.

    · Dapat melaksanakan monitoring secara terpadu terhadap kondisi aset maupun penanganannya, memberikan berbagai pelaporan mengenai status aset, melakukan perencanaan serta evaluasi atas kondisi aset.

    · Adanya Sistem Informasi Eksekutif yang memberikan

    o Kemudahan untuk pengambilan keputusan atas aset (misal untuk untuk kepentingan investasi, utilisasi atau penataan kawasan (estate management),

    o Akurasi yang tinggi dalam analisis aset, terutama melalui pendekatan ruang dan potensi ekonomi wilayah, sehingga dapat dirumuskan kebijakan terbaik terhadap aset.

    o Optimalisasi Nilai dan Jumlah Aset. Proses monitoring terhadap aset lebih optimum (kinerja aset terkontrol), sehingga akan memberikan nilai kemanfaatan atas aset yang selalu tinggi.

    · Manajemen pemeliharaan dan kewajiban terhadap aset.

    · Pengelolaan data dan informasi yang lebih efektif dan efisien dimana sistem pelaporan dapat dilakukan setiap saat bergantung kebutuhan

    · Optimalisasi Bobot Aset terhadap SDM

    1. FITUR SIMA

    Aplikasi SIMA memiliki fasilitas yang lengkap yang dibutuhkan dalam pengelolaan aset yaitu inventarisasi aset, pemeliharaan, perencanaan, mutasi, reminder, monitoring pelaporan dan Executive Information System. Aplikasi – aplikasi tersebut dikelola melalui suatu database serta aplikasi terpadu yang terdiri dari:

    1. Manajemen Sistem

    Merupakan sistem yang mengendalikan pemakaian aplikasi :

    · Security

    · Sistem menu,

    · User – Group

    · Form Aplikasi

    1. Manajemen Referensi

    · Unit Kerja

    · Lokasi Aset:

    o Propinsi,

    o Kabupaten/Kota,

    o Kecamatan,

    o Kelurahan/Desa

    · Tipe Aset

    o Jenis Aset

    o Tanah:

    § Tipe Dispute

    § Asal Hak Atas Tanah

    § Peruntukan Tanah

    § Pemanfaatan Tanah

    o Kendaraan

    § Merek Kendaraan

    § Warna Kendaraan

    o Fixture & Furniture

    § Item Fixture & Furniture

    · Referensi Lain

    o Mata Uang

    o Kondisi Barang

    o Penilaian

    § Perusahaan Penilai

    § Penilai

    o Asuransi

    § Perusahaan Asuransi

    § Tipe Resiko Asuransi

    o Akun

    o Golongan Penyusutan

    o Lantai

    o Ruangan

    1. Manajemen Aset

    · Lokasi Aset

    · Aset

    o List & Filter Aset

    o List & Filter Disposed Assets

    o View, Add, Edit, Delete Aset

    o Disposed Assets

    o Foto Fisik Aset

    o Fisik Tanah

    o Fisik Bangunan

    o Fisik Mesin

    o Fisik Kendaraan

    o Fisik Fixture & Furniture

    o PBB

    o Sertifikat Tanah

    o Faktur Pembelian

    o IMB

    o BPKB

    o STNK

    o Pajak Kendaraan

    o Value

    o Asuransi

    o Perjanjian Kerja Sama

    o Peranjian Sewa

    o HBU

    o Penyusutan

    · Reminder

    o Pembayaran PBB

    o Peringatan IMB

    o Pembayaran Asuransi Jatuh Tempo

    o Balik Nama BPKB

    o Perpanjangan STNK

    o Pembayaran Pajak Kendaraan

    o Perpanjangan/Pemutusan Sewa

    o Perpanjangan/Pemutusan Kerjasama

    o Sertifikat Tanah Jatuh Tempo

    o SPPT PBB

    o Fisik Bangunan Rusak

    o Fisik Mesin Rusak

    o Fisik Kendaraan Rusak

    o Fisik FF Rusak

    o Kontrak Maintenance Jatuh Tempo

    · Penyusutan

    o Daftar Invalid Data Aset

    o Hitung Penyusutan

    o Daftar Penyusutan

    · Penilaian

    · Asuransi

    · Perjanjian Sewa

    · Perjanjian Kerjasama

    · Kontrak Maintenance

    1. Pelaporan

    Executive Information System

    o Total Nilai Aset

    o Total Nilai Aset per Unit

    · Ad-hoc/ Periodik

    o Daftar Aset

    o Reminder

    2. ARSITEKTUR SIMA

    Secara teknis, arsitektur sistem yang diterapkan pada Sistem Informasi Manajemen Aset adalah sebagai berikut

    1. Web Based Client-Server yang siap untuk mengimplementasikan sistem informasi berarsitektur enterprise:

    o Akses ke dalam sistem dapat dilakukan mulai secara standalone, melalui jaringan lokal, intranet maupun internet

    o Client OS Independent, diakses cukup dengan aplikasi internet browser pada sistem operasi apapun

    o Dapat diakses di lokasi manapun (remote) yang terhubung dengan jaringan internet

    o Multi User

    o Multi Level Privileges, setiap grup user memiliki hak akses yang berbeda-beda.

    o Multi Level Security, secara garis besar terdapat hirarki security

    § database server security

    § application server security

    § application level security

    § client side security

    o Core sistem dikembangkan melalui pemrograman berbasis objek, sehingga flexible-scalable-extensible untuk dikembangkan maupun disesuaikan volume pemakai serta akses sesuai kebutuhan:

    § Fleksible, sistem dapat ‘diramu’ secara dinamis, dimana komponen – komponen yang diperlukan dapat dimasukkan maupun dikeluarkan bergantung kebutuhan.

    § Scalable, lingkup sistem dapat dikembangkan sesuai kebutuhan baik dari sisi pengguna maupun skala infrastruktur yang dibutuhkan.

    § Extensible, aplikasi mudah untuk dikembangkan maupun diintegrasikan dengan domain aplikasi lain seperti sistem keuangan

    1. Offline Model:

    o Adanya kondisi ketersediaan infrastruktur yang tidak merata, membutuhkan penanganan aplikasi yang dapat dilakukan secara off-line, dimana data kemudian dikonsolidasikan ke pusat menggunakan data media.

    o Penanganan secara offline memerlukan database tersebar yang menerapkan system otentikasi untuk menunjang data integrity

    Pada akhir pekerjaan, hasil berupa :

    a. Setup Perangkat lunak (software).

    1. Web Server, Application Server, Database Server

    2. Operating System & Database Setup

    3. Utility

    b. Setup perangkat keras (hardware).

    1. Komputer Server

    2. Komputer Client

    3. Sistem Jaringan & Komunikasi

    c. Data Conversion

    1. Data Preparation

    2. Convert – Integration Data

    3. Data Entri

    d. Dokumentasi Sistem: Manual, Technical & Functional Specification

    e. Pelatihan pemakai dan system support

    f. Masa Jaminan

    Terdapat kondisi yang harus diantisipasi sejak awal, agar tidak menjadi kendala terutama pada aspek -aspek:

    1. Pada Tahapan Data Preparation, dilaksanakan inventarisasi kelayakan existing system yang menyangkut validitas, signifikansi kelengkapan serta karakteristik database. Kondisi tersebut akan berpengaruh pada tuntutan akan dilakukannya inventarisasi asset.

    2. Secara kualitatif, data yang ada harus memiliki kelengkapan agar representatif terhadap kebutuhan SIMA yang akan diterapkan. Disamping itu secara kuantitatif antara objek aset yang dimiliki dengan yang tercatat dalam database harus akurat. Untuk itu sesuai dengan kondisi persilangan yang dijabarkan pada bagan di atas, akan Dianalisis sizing maupun scoopingnya.

    3. Perubahan, maupun penambahan item pada aplikasi SIMA release yang akan diterapkan akan dianalisis sizing maupun scoopingnya.

    4. Terdapat kebutuhan lainnya yang mungkin akan muncul

    Perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk membangun Sistem Informasi Manajemen Aset di lingkungan Korporasi merupakan variable cost baru dapat dikalkulasi setelah diperoleh data kualitataif – kuantitatif kondisi aktual diantaranya:

    · Penerapan aplikasi melalaui strategi offline

    · Biaya maintenance

    · Implementasi data spasial

    · Penerapan workflow dalam manajemen aset.

    · Jenis dan banyaknya aset yang harus diinventarisasi.

    · utility opname

    Kebijakan untuk membangun sistem informasi yang handal merupakan keputusan yang sangat tepat di tengah-tengah era new-economy yang menuntut kecepatan dalam akses informasi agar dapat mendukung pengambilan keputusan secara intensif dalam bentuk pengembangan sistem informasi manajemen aset yang semoga dapat menjai solusi terbaik bagi Perusahaan.

    Sumber Pustaka :

    · Buku Managemen Aset by Ir Doli Diapari Siregar, Msc

    · PT Satyatama Graha Tara – Tara Mitra - Jakarta.